Ku temui kau
Di dalam pekatnya hati
Waktu itu berdarah dan perih
Ku hampiri kau dengan penuh hatihati
Agar tak gugur di mata teringin ini
Lalu ku buatkan satu mahligai
Yang tak indah namun penuh rasa setia
Dari beningnya embun hingga putihnya salju
Tanpa bunga namun rumput di sekeliling
Kau sempat bertanya
Mengapa tiada mawar atau anggrek jingga
Aku berkata mawar dan jingga telah pun layu
Tak dapat berbunga mati tak menunas
Kau membisu bagai lukisan masa lalu mu
Lalu kita sepakat bersepakat
Biarkan cinta kita ada
Walau berbeda dalam kitabkitab
Aku,kamu adalah kesempurnaan rasa
Bukan kesalahan napsu yang pernah ada
Baiklah jawabku
Dan jawaban itu menghantarkan mimpi kepada berpisah
Ya,berpisah dipaksa
Sebab kesempurnaan rasa
Kau menangis
Ku teriris
Tujuh pelabuhan kulewati mendekatimu
Berbekal rindu yang tiada kabar teramu
Kita bertemu
Ya,kita bertemu
Di September sebelum perang antar suku
Sebelum Mei berdarah itu
Kita bercinta
Layaknya rama dan shinta
Namun hanya dua malam saja
Aku pergi
Kita pun berpisah
Di ujung pelabuhan sekupang
Lelaki bernama Soekarno sesekali melirik
Sebab airmatamu yang jatuh
Dan mataku yang berair
Kuayun langkah
Hingga membalas lambaianmu pun tak mampu
Oleh karena rasa malu
Yang mana mataku berair tumpah jua
Aku duduk
Tak berkata apa pun pada bule di sebelah
Kala ferry itu mulai berbunyi mesin
Aku berkata
Tuhan satukanlah kami
Satukanlah aku dan dia
Dalam nama(mu)
Pada kuasa rahman rahim(mu)
Sebab tiada yang salah dalam cinta kami
SigondrongDalamDiam
11 September 2014.
03:42.

