Notification

×

Iklan

Iklan

Karma Adalah  Cermin Kepribadian  Pribadi Yang Memantul  Menemukan Jalannya Kembali

Sabtu, 05 September 2026 | September 05, 2026 WIB Last Updated 2026-09-06T15:01:04Z
SerbaSerbi.SDD.6/9/2026.

Konsep karma tidak akan ditemukan dalam ajaran agama islam dari segi bahasa dapat ditelaah bahwa kata karma bukan dari bahasa arab namun kata karma berasal dari bahasa Sanskerta(Karman) atau Pali (Kamma) yang secara harfiah berarti tindakan atau perbuatan.

Sedangkan dalam koneep islam lebih dikenal dengan sebutan konsep sebab akibat (hukum tabur tuai) bahwa setiap perbuatan manusia—baik atau buruk—pasti akan mendapat balasan yang setimpal sangat tegas diajarkan dalam Islam. Ini dijelaskan dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (biji sawi/partikel terkecil), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Surah Al-Isra' ayat 7:
"Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.."
Surah Fussilat ayat 46 "Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri..."

Dalam ajaran Hindu, karma adalah hukum kosmiw universal yang tidak memihak. Setiap tindakan (karma) akan menghasilkan buah (karmaphala) yang setimpal.

Mekanisme Karma melekat pada jiwa (atman)
Siklus hidup : Jika buah karma belum habis atau belum terbalas di kehidupan sekarang, jiwa akan membawanya ke kehidupan berikutnya melalui proses reinkarnasi (samsara).

Agama Buddha tidak mengenal konsep jiwa yang kekal (anatta). Karma bekerja seperti energi yang mengalir dan membentuk arus kesadaran dari satu kehidupan ke kehidupan selanjutnya.Dalam Buddha, fokus utama karma adalah intensi atau niat (cetana). Sebuah perbuatan baru dianggap menghasilkan karma jika didasari oleh niat, baik secara pikiran, ucapan, maupun fisik.

Pemicu Karma buruk lahir dari tiga akar kejahatan: keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha).
Tujuan akhir: Memutus rantai karma dan siklus kelahiran kembali untuk mencapai Nirwana (kedamaian sejati).

Berbeda lagi dengan ajaran agama Jainisme (salah satu agama tertua di dunia yang berasal dari India yang muncul sekitar abad ke-6 SM, sezaman dengan penyebaran agama Buddha).Agama ini menekankan jalan non-kekerasan ekstrim, penyucian jiwa, dan asketisme (hidup prihatin/menahan hawa nafsu) untuk mencapai pembebasan spiritual.) melihat karma sebagai hukum abstrak atau energi, Jainisme memandang karma sebagai materi fisik (partikel halus) yang nyata.
Mekanisme: Setiap kali seseorang berpikir atau bertindak buruk, partikel materi karma yang sangat halus akan terbang dan menempel pada jiwa (jiva), membuatnya menjadi "berat" dan kotor.
Tujuan akhir: Jiwa yang berat akan terus terikat di bumi. Untuk mencapai pembebasan (moksa), penganut Jainisme harus menghentikan masuknya karma baru dan membakar karma lama melalui asketisme (pantangan ketat) dan konsep antikekerasan (ahimsa).

Jika ajaran Islam mengenal konsep balasan amal. Apa yang ditanam manusia di dunia akan dipanen di akhirat, namun Allah Maha Pengampun sehingga dosa (karma buruk) bisa dihapus melalui taubat.Berbeda dengan Hindu dan Buddha yang melihat karma sebagai hukum abstrak atau energi, Jainisme memandang karma sebagai materi fisik (partikel halus) yang nyata maka agama Kristen dan Yudasisme agama kaum Yahudi secara detail hampir sama dengan islam tidak ada menyebutkan karma nama pada dasarnya agama Yudasisme itu sendiri ada prinsip terkenal bernama Middah Kineged yang berarti ' Ukuran dibalas dengan ukuran" atau tindakan dibalas dengan setimpal sedangkan bagi Kristen diajarkan prinsip bahwa "Apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya" (Galatia 6:7). Balasan didasarkan pada kehendak dan keadilan Tuhan pada hari penghakiman terakhir.

Bagi penulis sendiri karma adalah cerminan dari kepribadian pribadi kita sendiri  yang hanya menunggu cahaya untuk memantul. Itulah mengapa hal-hal dalam hidup yang tidak selalu bisa diselesaikan oleh hukum tertulis,melainkan diselesaikan lewat pengadilan semesta alam melalui mekanisme waktu menuju tujuan akhir karna kehidupan itu mempunyai cara sendiri untuk mengembalikan segala sesuatu kepada pemiliknya.

Seperti pepatah mulutmu adalah harimaumu itu adalah teori dasar menyebutnya Karma.

Karma bukan sekadar cerita tentang seseorang yang berbuat jahat kemudian menerima balasan buruk. Karma jauh lebih luas. Ia adalah pengingat bahwa setiap tindakan meninggalkan jejak. Apa yang kita tanam, cepat atau lambat, akan tumbuh dalam bentuk yang mungkin tidak pernah kita duga.

Seseorang bisa saja menipu banyak orang dan tetap terlihat berhasil. Ia bisa tersenyum di depan kamera, menikmati kekayaan, mendapatkan jabatan, bahkan dipuji sebagai orang terhormat. Tetapi keberhasilan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak pernah benar-benar memiliki ketenangan. Atau contoh kecilnya, seorang berkata bisa namun kenyataannya tidak bisa, padahal orang yang mendengar kata bisa sudah berharap ini sudah dapat dikatagorikan pribadi tidak bertanggungjawab dan tindakan melukai orang lain secara langsung, atau contoh nyata lainnya yang lebih sering terjadi seorang suami mungkin pandai berdusta tetap kebanyakan isteri pintar menyembunyikan kebohongan. Seorang isteri mampu mengatakan suaminya tidak bertanggungjawab tidak memberikan nafkah padahal isteri itu sendiri paling tahu kebenarannya namun hanya agar terlihat menang bukan benar-benar menang karna ego ditambah alasan yang dibuat-buat isteri menghilangkan perbuatan terbaik seorang lelako bernama suami, sebab itulah ada perbedaan antara terlihat menang dengan sangat nyata benar-benar menang. Disinilah karma sebagai cermin pribadi akan memantulnya menunggu cahaya yang tepat hadirnya maksud penulis umpamakan.


Karma mungkin tidak cepat atau pun lambat namun pasti suatu saat akan hadir dalam kehidupan seseorang yang tidak mempunyai kepribadian yang menjunjung tinggi keperibadian yang baik yang menjunjung tinggi hukum alam semesta. Karma juga tidak selalu  datang dalam bentuk kehilangan harta. Kadang karma hadir sebagai hilangnya kepercayaan. Kadang sebagai kesepian, kadang juga sebagai ketakutan yang ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

Namun yang paling menyakitkan, Karma kadang datang ketika seseorang akhirnya diperlakukan sebagaimana dahulu ia memperlakukan orang lain.inilah cermin yang memantul sesungguhnya.

Ironisnya, manusia sering merasa dirinya terlalu pintar untuk menerima akibat dari perbuatannya dengan hanya meminta ampun menurut kepercayaan yang dianutnya tanpa meminta maaf pada orang yang pernah mendapat perlakuan darinya.

Ketika menyakiti orang lain, ia menganggap itu perkara kecil perkara biasa yang dapat dijelaskan oleh logika hingga orang yang disakiti diharapkan maklumi.Tetapi ketika dirinya yang disakiti, ia tiba-tiba berbicara tentang keadilan.

Di situlah manusia sering lupa bahwa kehidupan tidak hanya mencatat apa yang kita lakukan kepada diri sendiri, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Karma bukanlah mengenai balas dendam

Karma yang hadir dalam kehidupan orang yang telah menyakiti kita bukanlah alasan bagi kita untuk berharap seseorang jatuh hanya karena pernah menjatuhkan menyakiti  kita. Bukan pula pembenaran untuk membalas kejahatan dengan kejahatan sebab jika demikian jalan keadilan hanyalah pembenaran bukan kebenaran.

Karma adalah pengajaran yang mengajarkan hal sebaliknya yakni jangan menjadi seperti orang yang pernah menyakiti kita karna waktu akan bekerja dengan putaran cahayanya sendiri sebagaimana bumi berputar pada porosnya. TIdak semua pertanggungjawaban harus kita saksikan dengan mata sendiri. Tidak semua keadilan harus kita perjuangkan dengan tangan kita sendiri. Ada perkara-perkara yang lebih baik kita serahkan kepada waktu, kepada kehidupan, dan kepada konsekuensi dari pilihan masing-masing manusia berdasarkan cerminan pribadinya karna bentuk karma yang paling sederhana adalah seeorang akhirnya hidup bersama dari akibat pilihan pribadinya sendiri.

Jika kamu memilih kebohongan, maka suatu hari kamu akan hidup di tengah ketidakpercayaan.

Jika kamu memilih pengkhianatan, maka suatu hari kamu akan memahami bagaimana rasanya kehilangan kepercayaan.

Jika kamu memilih merendahkan orang lain, maka suatu hari kamu mungkin berada di posisi yang membutuhkan penghargaan.

Jika kamu memilih menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri hanya memberikan janji palsu pada orang yang semestinya membutuhkan maka suatu hari kamu akan mengetahui bahwa kekuasaan pun mempunyai batas sebagaimana usia dan kesehatan yang kamu miliki.

Itulah karma.
Bukan kutukan.
Bukan dendam.
Melainkan konsekuensi.

Tidak ada yang benar-benar abadi kecuali pribadi baik kita yang akan diangkat alam semesta ke derajat lebih tinggi mungkin karma bukan tentang melihat orang lain menerima hukuman. Karma adalah ketika kita mampu tetap menjadi manusia yang baik meskipun pernah diperlakukan dengan buruk.


SigondrongDalamDiam
×
Berita Terbaru Update