Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Patih Bhayangkara Itu

Rabu, 04 Maret 2026 | Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-04T22:03:48Z
Patih Bhayangkara itu menerima penghargaan “Respon Cepat”, dari Mahapatihnya di Wilwatikta adipati bagian pantai timur. Repon cepat sebuah frasa yang terdengar indah nan gagah seperti sirene iring-iringan mobil patwalnya yang membelah kemacetan kota demi mobil pejabat berjalan mulus,seperti lampu rotator yang memantul di badan jalan tatkala malam. Piagam diserahkan. 

Kamera berkedip-kedip.Nama institusi dijunjung tinggi.Namun, di sudut lain negeri, pertanyaan tumbuh seperti ilalang di tanah yang lama tak dipangkas. Respon cepat, secepat apa? Secepat minyak mendidih di wajan rumah makan cepat saji? Secepat antrean drive-thru yang tak sempat mendingin? Atau hanya cepat ketika sorotan kamera menyala-nyala? Penghargaan adalah simbol.,biasanya berbingkai indah, dan pantas dirayakan. 

Tetapi keadilan bukan soal simbol. 
Keadilan soal keberanian menyentuh luka yang bernanah, narkoba yang merayap di gang-gang sempit, pungli yang menyaru dalam senyum birokrasi, korupsi yang bersembunyi di balik map-map tebal berstempel resmi. Jika respon cepat itu benar adanya, mestinya ia tidak hanya berlari menuju lokasi kecelakaan atau peristiwa viral. Ia juga harus berlari masuk ke lorong-lorong gelap tempat transaksi haram berlangsung.
Ia harus berani mengetuk pintu-pintu yang selama ini tak tersentuh karena terlalu dekat dengan kekuasaan atau terlalu tinggi sejajar dengan kewenangannya untuk dijangkau. 

Cepat bukan hanya soal waktu tiba.
Cepat adalah soal ketegasan bertindak. 
Cepat adalah keberanian memutus mata rantai. Cepat adalah kesediaan membersihkan rumah sendiri sebelum menunjuk debu di halaman orang lain. 

Publik tidak butuh sekadar kecepatan prosedural. Publik mendambakan kecepatan moral. 
Sebab memberantas korupsi bukan lomba lari. Memberantas pungli bukan urusan pencitraan. Memberantas narkoba bukan sekadar konferensi pers dengan latar spanduk besar dan wajah-wajah pura-pura serius kuli tinta
Penghargaan itu seharusnya menjadi cermin, bukan mahkota.
Cermin untuk bertanya: sudahkah respon itu menyentuh akar masalah?
Sudahkah cepatnya sebanding dengan keberanian? Sudahkah kilatnya sebanding dengan dampaknya? Karena pada akhirnya, rakyat tak mengukur dari seberapa cepat sirene berbunyi dalam iring-iringan mobil pejabat tetapi dari seberapa nyata perubahan dirasakan. 

Dan kecepatan sejati bukan seperti masakan cepat saji yang panasnya sebentar lalu dingin tanpa bekas.
Cepat bukan hanya harus sigap tapi cepat adalah kecepatan sigap menindak karna kecepatan sejati adalah yang membakar habis ketidakadilan serta hanya menyisakan terang untuk selamanya yang akan dikenang.

SigondrongDalamDiam 
×
Berita Terbaru Update