Banyak prempuan ingin seperti R.A. Kartini dengan mantra emansipasinya dengan sajen “kesetaraan,” lalu diteriakkan tanpa jeda di hari Kartini. Banyak perempuan yang ingin berdiri setara, tapi lupa berdiri teguh. Banyak perempuan yang menuntut hak, tapi enggan memikul tanggung jawab yang kerontang karna keadaan. Kartini hari ini sering berhenti di panggung wacana namun lantang dalam kata-kata, ringan di laku. Emansipasi dipersempit menjadi kebebasan memilih, namun tak sampai pada keberanian membangun. Seolah kesetaraan cukup dengan sejajar, bukan dengan memberi arti agar lelaki dapat wanti-wanti.
Mengapa perempuan yang ingin menjadi Kartika tak tak menuntut kesamaan hak sebab paham betul diatas mau pun dibawah haknya tetap indah dan nikmat.Kartika beda dengan Kartini sebab Kartika menenun mimpi lewat pendidikan, merawat masa depan lewat kesehatan anak-anak bangsa. Tanpa riuh, tanpa slogan, diupayakan nyata.
Ironisnya, menjadi Kartini kini terasa lebih mudah: cukup bersuara. Tapi menjadi seperti Kartika itu butuh nyali untuk mengabdi, kesabaran untuk membangun, dan kerendahan hati untuk tidak selalu dilihat,ringkasnya Kartika itu seorang ibu bukan perempuan yang hanya ingin mengubah hak kodrat kelaminnya atasnama kesetaraan.
SigondrongDalamDiam
*Seniman LabuhanBatu
Mengapa perempuan yang ingin menjadi Kartika tak tak menuntut kesamaan hak sebab paham betul diatas mau pun dibawah haknya tetap indah dan nikmat.Kartika beda dengan Kartini sebab Kartika menenun mimpi lewat pendidikan, merawat masa depan lewat kesehatan anak-anak bangsa. Tanpa riuh, tanpa slogan, diupayakan nyata.
Ironisnya, menjadi Kartini kini terasa lebih mudah: cukup bersuara. Tapi menjadi seperti Kartika itu butuh nyali untuk mengabdi, kesabaran untuk membangun, dan kerendahan hati untuk tidak selalu dilihat,ringkasnya Kartika itu seorang ibu bukan perempuan yang hanya ingin mengubah hak kodrat kelaminnya atasnama kesetaraan.
SigondrongDalamDiam
*Seniman LabuhanBatu






