Malam kian membukakan
jubahnya
Pelan namun pasti meninggalkan jejakjejaknya
Pada helai daun muda maupun tua
Menyurut indera ku menafsirkan ribuan cinta
Rebah ku tak pernah meniduri malam
Bintang di langit begitu ingin terkantongi
Di antara nafas yang tinggal satuan
Selembar harap tetap menyala
Mimpi
Tentang yang tak pernah ada dalam tidur
Mimpi
Yang terbekam dalam diam
Dalam puncak terang
jubahnya
Pelan namun pasti meninggalkan jejakjejaknya
Pada helai daun muda maupun tua
Menyurut indera ku menafsirkan ribuan cinta
Rebah ku tak pernah meniduri malam
Bintang di langit begitu ingin terkantongi
Di antara nafas yang tinggal satuan
Selembar harap tetap menyala
Mimpi
Tentang yang tak pernah ada dalam tidur
Mimpi
Yang terbekam dalam diam
Dalam puncak terang
Sigondrongdalamdiam
28September2015.
Astana Airmata Melangit Mimpi.
28September2015.
Astana Airmata Melangit Mimpi.
*arti puisi ini
Malam kian membukakan
jubahnya
Waktu memasuki subuh
Walau terasa lama namun pasti meninggalkan jauh dari kejadian-kejadian dimulai dari saat matahari tenggelam
Embun yang menimpel di semua daun
Menjadi bukti kebesaran rahman-rahim alam
Aku yang tidak pernah istirahat (tidur seperti otang lain) disaat malam
Selalu berdoa kepada sang pencipta
Di usiaku yang semakin tua
Harapan adalah satu-satunya penyemangatku
Kebagiaan yang tak pernah didapat saat istirahat
Menjadikan pribadi yang tak banyak bicara (menuntut)
Sedangkan semua ingin dibahagiakan
Waktu memasuki subuh
Walau terasa lama namun pasti meninggalkan jauh dari kejadian-kejadian dimulai dari saat matahari tenggelam
Embun yang menimpel di semua daun
Menjadi bukti kebesaran rahman-rahim alam
Aku yang tidak pernah istirahat (tidur seperti otang lain) disaat malam
Selalu berdoa kepada sang pencipta
Di usiaku yang semakin tua
Harapan adalah satu-satunya penyemangatku
Kebagiaan yang tak pernah didapat saat istirahat
Menjadikan pribadi yang tak banyak bicara (menuntut)
Sedangkan semua ingin dibahagiakan
