SerbaSerbi.SDD.01/08/2026.
Provinsi Sumatera Utara memiliki 1.496.473 murid sekolah dasar pada tahun ajaran 2024/2025 dan angka itu tentunya bukan sekadar statistik melainkan fakta ada hampir satu setengah juta mimpi, harapan, dan masa depan yang sedang dipertaruhkan.
Di antara jutaan anak tersebut, lahirlah seorang siswa yang berhasil mengharumkan nama Kabupeten Labuhanbatu serta provinsi Sumatera Utara karna meraih prestasi tingkat nasional. Prestasi itu memang layak mendapat apresiasi dari pemerintah provinsi dengan memberikan penghargaan berupa rumah, beasiswa, dan berbagai fasilitas lainnya.Tidak ada yang salah dengan penghargaan bagi anak yang berprestasi. Bahkan, itu patut didukung.
Namun, persoalan sesungguhnya justru dimulai setelah apresiasi itu usai dimulai dari pertanyaan sederhana.:
" Bagaimana dengan 1.496.471 murid SD lagi?."
Apakah mereka cukup menjadi penonton?.,
atau Apakah perhatian pemerintah hanya hadir ketika seorang anak berhasil menjadi juara?.
Bukankah tugas seorang gubernur, bupati, dan wali kota bukan sekadar memberi hadiah kepada yang sudah berhasil, melainkan memastikan sebanyak mungkin anak memiliki kesempatan untuk berhasil?
Menjadi pemimpin itu tidak diukur dari seberapa besar hadiah yang diberikan kepada satu orang ketika berprestasi tetapi seberapa luas kebijakan yang mampu mengangkat kehidupan jutaan orang.
Bayangkan jika anggaran, perhatian tersebut tidak hanya difokuskan pada seremoni penghargaan yang ujung-ujungnya akan dikait-kaitkan pada seremoni politik akan datang tetapi anggaran tersebut untuk memperbaiki mutu sekolah atau meningkatkan kualitas guru sampai Sumatera Utara bisa melahirkan ribuan juara, bukan hanya satu karna idialisnya sebuah sekolah bukanlah mencari satu anak terbaik untuk dipamerkan, idialisnya sekolah adalah memastikan proses setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi bintang.
Karena itu, pemerintah provinsi mau pun pemerintah daerah seharusnya tidak berhenti pada penghargaan simbolis yang acap kali simsalabin justru yang lebih penting adalah membangun sistem yang membuat ribuan bahkan jutaan anak memiliki peluang menjadi juara di bidangnya masing-masing.
Setiap kabupaten dan kota di Sumatera Utara memiliki tanggung jawab yang sama, para bupati dan wali kota tidak boleh hanya bangga ketika ada satu anak berprestasi. Mereka harusnya bertanya kepada diri sendiri: Berapa banyak anak yang putus sekolah? Berapa banyak sekolah yang kekurangan guru? Berapa banyak murid yang belum memiliki fasilitas belajar yang layak?.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi agenda utama sebagai pemimpin di pemerintahan.
Seorang juara memang pantas diberi penghargaan. Namun,hampir satu setengah juta anak lainnya juga berhak menperoleh perhatian yang sama melalu kebijakan yang merata dan berkualitas.
Mengingat masa depan Sumatera Utara tidak ditentukan oleh satu anak yang berdiri di podium juara. Masa depan provinsi ini ditentukan oleh bagaimana pemerintah memperlakukan seluruh anak-anaknya tanpa terkecuali.
Jangan sampai kepemerintahan hanya hadir dan pandai merayakan satu bintang, tetapi lupa menyalakan cahaya bagi langit yang penuh dengan jutaan bintang lainnya.
Auah.. gelap.
Provinsi Sumatera Utara memiliki 1.496.473 murid sekolah dasar pada tahun ajaran 2024/2025 dan angka itu tentunya bukan sekadar statistik melainkan fakta ada hampir satu setengah juta mimpi, harapan, dan masa depan yang sedang dipertaruhkan.
Di antara jutaan anak tersebut, lahirlah seorang siswa yang berhasil mengharumkan nama Kabupeten Labuhanbatu serta provinsi Sumatera Utara karna meraih prestasi tingkat nasional. Prestasi itu memang layak mendapat apresiasi dari pemerintah provinsi dengan memberikan penghargaan berupa rumah, beasiswa, dan berbagai fasilitas lainnya.Tidak ada yang salah dengan penghargaan bagi anak yang berprestasi. Bahkan, itu patut didukung.
Namun, persoalan sesungguhnya justru dimulai setelah apresiasi itu usai dimulai dari pertanyaan sederhana.:
" Bagaimana dengan 1.496.471 murid SD lagi?."
Apakah mereka cukup menjadi penonton?.,
atau Apakah perhatian pemerintah hanya hadir ketika seorang anak berhasil menjadi juara?.
Bukankah tugas seorang gubernur, bupati, dan wali kota bukan sekadar memberi hadiah kepada yang sudah berhasil, melainkan memastikan sebanyak mungkin anak memiliki kesempatan untuk berhasil?
Menjadi pemimpin itu tidak diukur dari seberapa besar hadiah yang diberikan kepada satu orang ketika berprestasi tetapi seberapa luas kebijakan yang mampu mengangkat kehidupan jutaan orang.
Bayangkan jika anggaran, perhatian tersebut tidak hanya difokuskan pada seremoni penghargaan yang ujung-ujungnya akan dikait-kaitkan pada seremoni politik akan datang tetapi anggaran tersebut untuk memperbaiki mutu sekolah atau meningkatkan kualitas guru sampai Sumatera Utara bisa melahirkan ribuan juara, bukan hanya satu karna idialisnya sebuah sekolah bukanlah mencari satu anak terbaik untuk dipamerkan, idialisnya sekolah adalah memastikan proses setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang menjadi bintang.
Karena itu, pemerintah provinsi mau pun pemerintah daerah seharusnya tidak berhenti pada penghargaan simbolis yang acap kali simsalabin justru yang lebih penting adalah membangun sistem yang membuat ribuan bahkan jutaan anak memiliki peluang menjadi juara di bidangnya masing-masing.
Setiap kabupaten dan kota di Sumatera Utara memiliki tanggung jawab yang sama, para bupati dan wali kota tidak boleh hanya bangga ketika ada satu anak berprestasi. Mereka harusnya bertanya kepada diri sendiri: Berapa banyak anak yang putus sekolah? Berapa banyak sekolah yang kekurangan guru? Berapa banyak murid yang belum memiliki fasilitas belajar yang layak?.
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi agenda utama sebagai pemimpin di pemerintahan.
Seorang juara memang pantas diberi penghargaan. Namun,hampir satu setengah juta anak lainnya juga berhak menperoleh perhatian yang sama melalu kebijakan yang merata dan berkualitas.
Mengingat masa depan Sumatera Utara tidak ditentukan oleh satu anak yang berdiri di podium juara. Masa depan provinsi ini ditentukan oleh bagaimana pemerintah memperlakukan seluruh anak-anaknya tanpa terkecuali.
Jangan sampai kepemerintahan hanya hadir dan pandai merayakan satu bintang, tetapi lupa menyalakan cahaya bagi langit yang penuh dengan jutaan bintang lainnya.
Auah.. gelap.





