
"Amak yang gawatlah itu ungjapannya,siapa pulak yang mengungkapkannya, yang sudah tak takutnya lagi itu orang dengan azab Tuhan".jawab Kira yang duduk semeja.
"Aihh..iya bah,yang parahlah itu macam tak pernah sekolah arab itu orang yang mengungkapkannya" .Sahut Kolu dengan geramnya.
"Nah jadi gini ceritanya,bak tahu kalian mengapa ungkapan itu terungkapkan". Kata Salih.
"Tapi ini agak panjang ceeitanya ya,.. " tegas salih.
Dahulu di kampung kecil yang dikelilingi sawah dan sungai keruh, hiduplah seorang anak lelaki bernama Sawan. Sejak kecil, hidup tak pernah ramah padanya. Ayahnya hanyalah buruh tani, ibunya hanyalah ibu rumah tangga.Sawan bukan anak yang mudah menyerah. Di balik tubuhnya yang kurus dan pakaian lusuhnya, tersimpan tekad yang keras. Ia sering berkata dalam hati, “Aku tak akan selamanya begini.”
Saat usianya beranjak dewasa, Sawan memutuskan sesuatu yang mengubah hidupnya: ia mendaftar menjadi tentara. Banyak yang meremehkan anak kampung seperti dirinya, tapi ia membuktikan bahwa ketekunan bisa mengalahkan segalanya. Latihan keras, disiplin, dan keberanian membuatnya perlahan naik pangkat.
Tahun demi tahun berlalu. Sawan tak lagi sekadar prajurit biasa. Ia dikenal sebagai sosok tegas nan bijaksana. Setelah puluhan tahun mengabdi, memasuki pensiun Tak disangka,melalui sistim penunjukan langsung dari presiden kala itu tak seperti sekarang yang dipilih langsung Sawan diangkat menjadi kepala daerah di kampung halamannya menggantikan seniornya yang telah habis masa jabatannya.
Di balik kesuksesan itu, ada seorang perempuan yang selalu setia di sampingnya istrinya, Ramlah. Bersama, mereka membangun keluarga dengan empat anak: dua perempuan dan dua laki-laki. Rumah mereka hangat, penuh tawa, dan kebanggaan.
Namun hidup tak selalu indah.
Memasuki usia tua, walau ia tak lagi menjabat kepala daerah lagi tapi masih menjadi pejabat di kota provinsi .isteri tercintanya Ramlah jatuh sakit. Penyakit itu perlahan merenggut kekuatannya. Selama lima tahun, ia hanya terbaring di tempat tidur, tak mampu berbuat apa-apa. Sawan tetap setia merawat, menyuapi, dan mendampinginya. Tapi di dalam hatinya, ada pergulatan yang tak pernah ia ucapkan.
Meski rambutnya mulai memutih, jiwa Sawan masih membara seperti kuda jantan di alam liar yang tak mau jinak oleh waktu.
Suatu hari, ia meminta bantuan seorang yang dianggap mengerti ilmu agama untuk memberitahukan maksud hatinya ingin menikah lsgi kepada anak-anaknya
"Maaf sebelumnya. Ayah kalian kan normal, kasihan dari pada ia melakukan perbuatan zina,bagaimana kalau kita carikanlah pendamping lagi selain ibu kalian yang kini sedang sakit,secara kedokteran ibu kalian kecil untuk sembuh,Dan Ayah kalian, ,ingin menikah lagi,” katanya pelan.
Seisi ruangan membeku. Anak-anaknya menolak keras. Mereka tak tega melihat ibu mereka yang sakit harus disakiti lagi.
“Apa...?.Lebih baiklah ayah kami melakukan zina dari pada menikah lagi” kata salah satu anak perempuan Sawan dengan bsngganya membela ibunya.
Sawan terdiam. Di balik dinding yang diam-diam menguntit pembicarasn itu,Ia tak dapat memaksa anak-anaknya untuk memahami masih besarnya hasrat dunianya yang lams tak tersalur.
Namun waktu berjalan, dan diam-diam Sawan mengambil keputusan sendiri. Ia menikah lagi secara sembunyi-sembunyi. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang anak—sebuah rahasia yang ia simpan rapat.
Hari-hari berlalu dalam dua kehidupan yang tak pernah bersatu di ranjang hingga suatu pagi, Ramlah menghembuskan napas terakhirnya. Rumah itu kembali sunyi, tapi bukan hanya karena kehilangan melainkan karena rahasia yang selama ini terpendam.
Beberapa waktu setelahnya, Sawan mengumpulkan anak-anaknya lagi.
Dengan suara berat, ia berkata,
“Ayah harus jujur… selama ini, ayah sudah menikah lagi… dan kalian punya satu adik.”
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Anak-anaknya terdiam, antara marah, kecewa, dan tak percaya.
Sawan tak membela diri. Ia hanya menunduk.
“Ayah manusia… ayah lemah,” ucapnya lirih.
Waktu menjadi hakim yang paling adil. Luka memang tak langsung sembuh, tapi perlahan, anak-anaknya mulai mengerti bahwa ayah mereka bukanlah sosok sempurna—melainkan manusia yang pernah berjuang dari nol, mencintai, gagal, dan mencoba bertahan dengan caranya sendiri.
Di ujung senja hidupnya, Sawan sering duduk di beranda rumah, memandang sawah yang dulu menjadi saksi masa kecilnya. Di sana, ia belajar satu hal:
Bahwa hidup bukan hanya tentang keberhasilan, tapi juga tentang keberanian menanggung konsekuensi dari setiap pilihan.
"Demikianlah ceritanya mengapa ungkapan, lebih baik melakukan zina daripada seorang lelaki yang beristeri menikah lagi bisa terjadi " jelas Salih menutup ceritanya.
"O..ih pantaslah." Cetus Kira.
"Pantas tak sekolah arab "jawab Kulo.
"Apa pulak hubungannya ama sekolah arab " Tanya Kira.
"Hubunganya kalau sekolah arab pasti akan menganggap menikah lagi lebih mulia daripada melakukan zina " Sahut Kulo.
" Udalah itu...... intinya , sesayang-sayangnya kita terhadap sesuai bukan berarti kita dapat mengharamkan yang dilarang menjadi halal. titik." Tegas Salih mengakhiri perbincangan.
Tamat





