Notification

×

Iklan

Iklan

Harapan Samudera di Tengah Badai

Senin, 25 Mei 2026 | Mei 25, 2026 WIB Last Updated 2026-05-26T08:48:11Z


Di ruang kamar yang kecil seorang perempuan bernama Cece ia adalah isteri dari lelaki bernama Samudera,,tampak Cece sedang menidurkan anak mereka. Anak pertama perempuan berumur dua tahun bernama Naira, sementara si bungsu laki-laki baru satu tahun, dipanggil Raka. Dua anak kecil itu tidur berhimpitan dengan tanpa ada kipas angin berputar lambat di atas kepala.


Samudera tinggal satu rumah dengan ibu dan ayahnya. Namun sejak lama ia merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Ia membeli beras sendiri, susu anak sendiri, bahkan air minum pun ia usahakan sendiri. Ia tak mau membebani orang tua meski hidupnya sendiri sering kekurangan.

Suatu malam hujan turun begitu deras, Samudera kuyup dengan sepeda masa kecilnya.
"Assalamualikum" ucapnya pelan sambil mengetuk pintu dengan lembut
"Walaikum salam" sambut isterinya
" Wih..hujan-hujan mas.langsung mandilah mas" ucap isterinya kembali.
Samudera bergegas menuju ke kamar mandiri sambil menahan seperti mau puruh kedua kakinya karna mengayuh sepeda 66.4 kilometer di dalam hujan yang begitu deras.

Selesai mandi ia dan berpakaian ia duduk di tepi ranjang kamar bersama isterinya

"Dari mana mas mengapa malam kali pulangnya"tanya isterinya
"Mutar-mutar nyari pekerjaan "jawab samudera tanpa menjelaskan dari mana seolah tak ia tak ingin tahu berapa kilo sudah ia tempuh dengan sepedanya.

"O..iya.. ini ada 5000rupiah.Mas lapar belikan mas mie par-par nanti kalau hujannya sudah berhenti"ucapnya.

"Dari mana uang ini mas?"tanya istreinya.
"Dari Tuhan,tmelalui seseorang,jangan kuatir ini halal bukan uang gak benar,ya.. alhamdulillah bisa buat kita makan,"ucapnya.

Samudera memang tak memiliki kerja tetap apa saja ia kerjakan asal halal buat ia berikan pada keluarganya.

Baginya, harga diri seorang lelaki bukan tentang banyaknya uang, tapi tentang tetap berusaha walau hidup menampar berkali-kali.

Di suatu siang, pertengkaran besar terjadi di rumah itu. Berawal dari hal sepele, pertengkaran ini bermula dari istri ke istri namun harus berakhir antara abang dan adik yang menjadi luka lama yang dibuka satu-satu. Abang ibunya datang dengan suara tinggi dan mata penuh marah.

“Kalau hidupmu cuma bikin susah keluarga, keluar saja dari rumah ini!”

“Aku sudah muak denganmu” jawab Arman abang Samudera dingin.

“Bang… kita lahir dari rahim yang sama. Darah kita sama. Bagaimanapun aku tetap adikmu. Dalam tubuh anak-anakku ada darahmu. Anak-anakku adalah warismu, dan anakmu kelak adalah warisku.”

Arman menatap tajam.
“Tidak. Kau bukan adikku. Anakmu bukan warisku.”

Samudera menoleh kepada ibunya yang berdiri diam di sudut ruangan.
“Iya, Mak… aku anak Mamak, kan?”

Perempuan tua itu menunduk lama sebelum menjawab lirih,
“Tidak…”

Sunyi mendadak menikam ruangan.

“Apalagi yang kau tunggu?” kata Arman keras. “Angkat kaki dari rumah ini!”

Samudeea menghela napas panjang. Matanya memerah, tetapi suaranya tetap tenang.

“Baiklah. Aku pergi dari rumah ini. Tapi ingat, Bang… abang yang memintanya kalau bisa abang punya anak jago, sebelum abang mengerti kasih sayang seorang abang kepada adiknya, kasih sayang seorang adik kepada abangnya”.

Arman mengepalkan tangan.
“Siapa kau? Tuhan?”

Samudera menggeleng pelan.
“Bukan. Tapi abang sendiri yang meminta semua ini terjadi.”

Samudera merasa dunia runtuh tepat di bawah kakinya.

Setelah mengemas barang, Samudera bersujud di depan pintu masuk rumahnya dengan berkata:
" Tuhan, jika bukan nanfi salah satu penghunk di rumah ini yang mencari dan berhasil menemuiku meminta aku kembali ke rumah ini,maka ijinkanlah aku tidak kembali ke rumah ini, dan tuntunlah aku tetap untuk tidak menjadi anak yang durhaka".
Hari itu juga mereka keluar dari rumah itu pergi memulai hidup baru.

Tak banyak yang dibawa. Hanya pakaian, susu anak, dan hati yang pecah berkeping-keping.

Beberapa hari kemudian, seorang sahabat lama bernama Agus datang menolong. Ia mempersilakan Samudera keluarganya tinggal sementara di rumah warisan kakeknya

“Anggap saja rumah sendiri,” kata ibu Agus

Kalimat sederhana itu hampir membuat Samudera menangis

Namun luka dalam hati tidak sembuh hanya karena tempat berteduh.

Bulan demi bulan berlalu. Samudera tetap tidak memiliki kerja tetap, Kadang pulang tak  membawa uang lebih banyak pulang hanya membawa lelah. Di malam hari ia sering duduk sendiri dimemandangi belakang rumah yang sepi

Ia mulai jarang bicara.

Cece tahu suaminya sedang hancur.

Bukan karena miskin.

Tapi karena ditolak oleh rumah yang dulu ia sebut keluarga.

Suatu malam Cece duduk di sampingnya.

“Bang… kita ke rumah orang tuaku dulu saja.”

Samudera terdiam lama.

Harga dirinya memberontak, tapi hatinya terlalu lelah untuk terus keras kepala.

Akhirnya mereka pergi ke rumah mertua.

Di sana mereka diterima dengan sederhana. Tidak mewah, tidak luas, tapi hangat. Mertuanya tak banyak bertanya. Mereka hanya memberi tempat tidur dan memberi makan yang membuat perut kenyang
Namun tetap saja, hati Samudera belum tenang.Walau ia sembunyikan dari isterinya

Ia merasa hidupnya seperti perahu bocor di tengah laut.

Sampai suatu dini hari, ketika semua orang tertidur, Samudera duduk di depan rumah memandangi langit gelap. Naira tertidur di pangkuannya sementara Raka terlelap di dalam bersama istrinya.

Saat itulah ia memutuskan sesuatu.
Ke tempat yang hanya sedikit mengenal siapa aku. Tempat aku bisa mulai lagi hidup yang sudah hancur.”

Samudera ijin kembali ke kota kampung halamannya untuk mencari kerja, Hanya satu tekat dapat ongkos buat pergi jauh
Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan uang.

Sampai akhirnya, di suatu pagi yang masih basah oleh embun, mereka berdiri  pingggir jalan lintas Sumatera dengan tiga tas lusuh dan dua anak kecil yang belum mengerti apa-apa.

Samudeea menyetop bus Garuda pribumi setelah mereka berada di dalam bus tawar menawar ongkos sebesar uang Rp 35000 Bus perlahan bergerak meninggalkan pimggir jalan simpang mertua Samudera. Cece menyandarkan kepala di bahu suaminya. Raka tertidur di panggkuannya sementara Naira dipangguan Samudera melihat kendaraan di luar

Samudera memandang jalan panjang di depan.

Hatinya memang belum sembuh sepenuhnya.

Luka itu masih ada.

Tentang rumah yang mengusirnya.

Tentang keluarga yang tak lagi mengakuinya.

Tentang malam-malam panjang penuh rasa gagal.

Namun kehadiran Naira dan Raka  dan isterinya tetap berada disampingnya membuat  Samudera merasakan punya sesuatu yang lebih kuat daripada kesedihan.
Samudera mempunyai harapan di tengah badai dan harapan itulah yang membuatnya tetap hidup meski hatinya nyaris hancur seutuhnya untuk melanjutkan kehidupan.


Tamat
×
Berita Terbaru Update