Aku adalah tapak-tapak berdarah
Yang membekas di sepanjang lorong-lorong sunyi
Aku berjalan dalam perzinaan waktu
Menggenggam matahari memeluk bulan
Tapak-tapak itu membekas panjang
Dari tiap lorong yang kusinggahi
Mengajarkan aku agar terus berjalan dan tetap terus berjalan tanpa jeda tersenyum
Hingga akhirnya tapak-tapak berdarah kukafani menjadi aksara
Dengan air mata yang tertahan tumpah
Menjadikan mataku rabun sebelum waktunya
Ditiap jejak pada lorong-lorong sunyi yang kusinggahi hingga hari ini
Aku terus melangkah bersama mimpi
Mencoba membuat waktu itu mengerti
Bahwa aku tak akan pernah berhenti
Sebelum matahari dan bulan kulepaskan dalam genggaman pelukkan
Hingga menjadi sebuah prasasti bertuliskan
Di sini telah terkubur dengan damai
Lelaki pemecah batu
SigondrongDalamDiam
31Mei2026






