Di embun yang kan terhapus mentari
Dan dijejak malam yang menyisakan dingin
Aku termangu kesendirian mencari-cari
Seraut wajah ayu dengan sebutan
Bukan membangkit tapi mengungkit
Kehadiranmu adalah cahaya suram
Ibarat pohon tegak sendiri
Kulupa rimbunan hijau didalam hutan
Begitu agung nan suci
Hamparan kasih berujung lakaran
Sejak kau pergi dengan amarah
Lalu kembali mencampakkan rasa
Aku menjadi arca terbiar
Penuh kecacatan disekujur badan
Kaulah yang pertama membangkitkan indera
Kau jugalah yang pertama mematikannya
Betapa malang harus terkandung jua
Tiap ingin melupakanmu
Hanya rasa sakit yang kudapati
O... TIurmaida
Dan kini kau pergi dengan doa kudus
Hatiku yang membekas gontai kesana kemari
Pikiran ini pun sukar terkendali
Masih lekatnya aku yang mencintaimu dengan dendam
Dan masih membaranya aku membencimu dalam damai
O.. Tiurmaida
Sakitnya tiada dapat memilikimu
Lembut suaramu pertama kali
Menyapa masih lagi terniang
Senyum siputmu dimungil bibirmu
Masih dapat kubayangkan dalam diam
Serta keanggunanmu yang sulit untuk dibuang
Sakit rasanya engkau tinggalkan
Pergimu dahulu dan pergimu kini dalam doa
Menjadikan aku batu nisan
Yang terus mencintaimu dengan dendam
Dan terus kubenci dalam damai
Sigondrong Dalamdiam
8Febuari2023


Social Plugin