Di belakang rumah Swamil,
di belakang Swamil mengalir sungai yang tua yang menjadi saksi
Walau warna sudah berubah coklat muda dan membawa pasir dalam tiap airnya.
Waktu itu pertama kali aku menjejak kaki disana
Adalah hal yang tak mampu untuk kudiamkan karna rasa keingintahuan yang kuat
Aku bertanya pada seorang warga yang umurnya dibawahku berapa tahu kalau dilihat perawakannya
Sambil aku menunjuk ke dinding rumah yang bagai terpisah sebatang garis yang memanjang warna catnya
Dibagian bawah warna memudar seperti kenangan yang dibiarkan menua,sedangkan dibagian atas masih terlihat cerah nuasanya.
“Itu bekas apa di dinding rumah itu?” tanyaku.
Ia menoleh perlahan, seolah memilih kata paling tepat agar tidak bercampur bahasa daerah disana.
“Itulah bekas banjir tsunami, itulah batasnya.”ucapnya.
"Sehebat itukah tsunami pada waktu itu hingga disini pun merasakannyanya."Tanyaku kembali.
"Garis di dinding itulah buktinya 2meter bahkan ada yang ke 3 meter, dan sungai dibelakang swamil itu dulunya jernih sekarang lihatlah sendiri airnya dan kini air sungai itu membawa pasir,kalau tak percaya mandilah disana agar tahu pasirnya".jawabnya sambil menerangkan.
Menjelang sore aku bersama kawan pergi mandi ke sungai tersebut dan ternyata benar rambutku yang panjang menjadi hunian pasir.
Sehabat itu tsunami pada waktu itu menghantam sampai ke daerah ini, tapi iyalah ucapku dalam hati, waktu tsunami terjadi aku yang berada di rokan hilir menyaksikan bagaimana jalan lintas menjadi macet karna sungai rokan pun meluapkan airnya kemana-mana,perkebunan sawit warga pun menjadi jalan air pada waktu itu melalui parit-paret bondarnya tempat biasa aku memancing betik.Apalagi daerah ini yang masih satu provinsi.
Dari belakang rumah warga di belalang Swamil dan dibelakang swamil sungai,
aku belajar bahwa setiap bekas bencana
adalah kalimat yang belum selesai dan kita semua, tanpa sadar,
tinggal di antara jedanya.
Sigondrong Dalamdiam


Social Plugin