(1)
Apakah musim mekar bunga itu sudah usai
Hingga hanya daun-daun kering yang kutemui
Dari tangkai yang mungil di ujung batang
Hingga akar yang kering sedangkan ini musim hujan
Kau bagikan semerbakmu wahai bungàku
Bukan pada aku sebagai pemilik taman
Yang terus mengusung semua penderitaan
Siang dan malam
Kau masih ingat
Kau adalah kelopak yang pernah gagal mekar
Dan aku adalah taman yang pernah ditinggalkan sebatang mawar kehidupan
Lalu kita bertemu dengan masing-masing membawa bibit baru
Di atas dasar cinta dan rindu menjadi bunga dalam taman
Kau kini berubah
Bukan sekeliling mata
Namun lebih mengikuti arah angin
Hingga rasa yang ku miliki tiada pernah terselip terhargai
Bungaku
Yang tidak lagi harum
Yang kini tumbuh di pinggir jalan
Titipan rindu cintaku untuk ķebebasan
Semoga kau menemukan arti mekar dalam taman
Sigondrong Dalam Diam
02 Desember 2015
Astana airmata melangit mimpi
(2)
Aku tak mengenalmu
Sedangkan waktumu habis sudah kutempatkan dalam lemari kaca itu
Panjang kau berkisah
Tentang malam yang mendung hujannya di siang
Kau rebah
Pada jalan dusta
Bukan lagi dari belakang hadapan mata
Namun juga dari dalamnya cinta
Kau lupa pulang
Sedangkan pintu tiada terkunci adanya
Kau terus lewat jendela
Menjadikan ruang penuh dasamuka
Sigondrong Dalam Diam
03 Desember 2015
Astana airmata melangit mimpi
(3)
Mendung itu belum pergi
Bahkan kita pun tak mampu mengusirnya
Walau belum jatuh
Namun terasa kita telah pun basah
Hingga kita berlari sekuatnya
Untuk sembunyi dari dingin yang ada
Kau nyalakan api itu
Dari kayu-kayu muda batang pohon tiada menyesal
Aku menyalakan api
Dari sisa-sisa kertas mencoba tak membenci
Hangat pun menjalar
Pada tubuh-tubuh kita
Menjadikan mata kita terus seakan ingin berpisah
Pada secawan waktu yang kita singgahi
Aku diam menapsirkan cinta
Yang berujung terbunuhnya rindu
Kerana keegoan yang tak pernah dewasa
Jujur aku kecewa
Tentang kebohongan senyuman dalam tidurmu
Kerna selimut itu bukan keadaanku
Yang kau gunakan menyusun napas-napas hidupmu
Aku bertanya?
Haruskan ada lukisan kedua
Untuk mengulang kisah agar seni itu tak binasa
Sungguh sukar sekali bagiku
Sebab kau terus mengusung kuas tak pernah puas
Adakah kecewaku mendasari kecewamu merubah
Hingga kita dalam satu tengkujuh berlayar kembali
Pada lautan kehidupan menjadi sepasang kekasih
Entahlah
Kunanti suara kecil itu menjamah sudut-sudut bibirku dan bibirmu
Sigondrong Dalam Diam
05 Desember 2015
Astana airmata melangit mimpi
(4)
Jalan itu masih sama
Yang pernah sama-sama kita lalui
Berujung sendiri
Hanya bedanya,aku ditinggalkan mati
Engkau ditinggalkan hidup
Kita meratap dalam
Menyusun tiap butir-butir airmata yang jatuh
Menjadikan ajimat menantang badai
Aku masih ingat
Saat kita bertemu
Saling memandang kebelakang
Menghapus ragu meninggikan ingin
Dari balik jendela tanpa daun
Aku menempatkanmu penuh segala rasa
Agar kau menjadi daun jendela itu
Yang menutupi angin jika berembus
Kau pun setuju
Kita pun menjadi sepasang rindu
Yang terikat di pondasi indah
Waktu berjalan penuh syukuran
Nikmat bersama tiada kan berguguran
Namun?
Di hempasan detik yang pelan bergerak
Kau kini berubah dalam sekejap
Bermain pada dimensi waktu dan ruang
Bernama ketidakjujuran
Aku kecewa
Inikah laut hidupmu yang sebenarnya
Sedangkan yang kau kabarkan sungguh menafikkan pikiran
Aku kecewa
Pada rancangan yang telah kusyadatkan
Yang kelak bukan untukku atau untukmu
Melainkan untuk orang-orang yang kita cintai
Sungguh aku kecewa
Inikah jalan yang harus kita lalui kembali
Saling menggenggam bara api
Hanya menunggu waktu untuk melepuh
Entahlah
Sungging senyum dan tatapan mata kita
Masih mengisyaratkan tanpa merasa bersalah
Begitu pun aku
Yang selalu tak pernah mengakui kebenaran
Jika kini kau telah berkata jujur
Dengan lakonanmu di atas panggung
Berpura-purakah kita
Pada saling tidak bisa memahami arti sebenarnya bersama
Sedangkan kita kini memilih sendiri
Entahlah
Kita hanya tamu yang tidak pasti
Yang menanti siapa mengakui kesalahan
Bukan memulai siapa melakukan kebenaran
Sigondrong Dalam Diam
05 Desember 2015
astana airmata melangit mimpi
(5)
Sudah kita lewati
Tiap napas yang kita simpan
Hingga kita menjadi hidup
Layaknya kekasih
Waktu kian terasa pendek
Hari kian terasa terjepit
Di bulan dan tahun yang sama
Kita seolah terus menerus menjadi asing
Semula kau adalah bunga
Yang kuhampiri empati simpati
Bahkan entah apa pun namanya itu
Yang kuingin tiada lagi gagal menyertaiku dan menyertaimu
Maka kukobankan segala bentuk rasa ini
Untukmu dan hanya untukmu
Nàmun kandas bersembunyikan malu
Yang kau iriskan pada ketidakjujuran
Yang kau usung diam-diam
Bukankah aku yang memujamu
Sejak sendiri menjadi sahabatmu
Namun mengapa bukan aku menjadi pemilik senyum indah itu
Melainkan rahwana-rahwana pengagum durga
Sudahlah
Semua sudah usai
Kau tak perlu menjadikan aku selimut
Di kala dingin itu menyapa tulang-tulang hatimu
Lelah sudah aku menunggu
Dan menunggu ini adalah kesempatan buatmu
Untuk berkata jujur
Bahwa aku saja yang engkau inginkan
Namun kau menutup segala pintu
Sambil menterjemahkan salam assalamualaikum
Sebagai keegoan
Mungkin kita tak bersudut
Pada bismillah ikatan terpaut
Aku tak akan membencimu
Bagaimana pun engkau pernah menjadi napasku
Maka biarlah
Kita menjadi dua sahabat
Yang pernah menjadi dua kekasih
Kini dan nanti
Semoga engkau menyadari
Kita yang pernah kecewa membelai cinta
Harus tersenyum bangga
Maafkan
Waktu sudah menjawab raguķu ragumu
Sigondrong Dalam Diam
06 November 2015
Astana airmata melangit mimpi


Social Plugin