Mereka-mereka Hanya Berasumsi Bukan Berpikir Selayaknya Pemikir
Al kisah...
Di sebuah negeri bernama Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya yang dipimpin oleh menantu Raja Nusantara Jawa Tuanku Sri Indra Utama Junjungan Negeri yakni NgaBobna Sution ada pohon beringin tumbang. Bukan tumbang sendiri melainkan ditumbangkan dari atas tapi bukan atas langitan. Hal ini menjadikan anak-anak beringin yang hilang tempat berteduh menjadi pohon bambu yang ribut bila tertiup angin. Tak terima jika pohon beringin yang telah memberikan sejuk nyaman pada mereka bertahun-tahun ditumbangkan. Asumsi-asumsi liar pun mengalir bagaikan bubur sum-sum digenangi gula merah yang menggiring mata untuk melahapnya.kata anak-anak beringin yang telah merasakan sejuk dan nyamannya dibawah pohon beringin yang ditumbangkan ," Penumbangan ini kuat muatan politiknya". Mereka sepertinya ingin berkata kalau mereka selama ini bukan berada satu atap.Disinilah lucunya bagaimana mungkin politik tidak kuat muatan politik.Dan kelucuan itu makin melucui adanya asumsi liar dibiarkan mengalir seperti layaknya hidangan bubur sum-sum dengan gula merahnya.Penumbangan itu dikaitkan terhadap menantu mantan raja nusantara jawa yang kini sedang memimpin negeri Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya yang baru-baru ini paling banyak negerinya kena musibah bencana banjir, Tapi itulah politik yang dikandangnya sendiri pun bermain intrik apalagi kepada rakyat jelantah,sudah tentulah jelantah itu nasibnya terus digoreng dan digoreng sampai menghitam takdirnya yang penting mereka-mereka tetap sejuk dan nyaman.
Sebenarnya jika kita mau jujur sesuai rasa keadilan sosial, Jangankan pohon beringin, Banteng , Kepala burung , bahkan yang mengatasnamakan gambar rumah Tuhan dan terakhir sekali pun seperti gajah yang baru belajar jalan sekali pun dan yang lain-lain itu, tidaklah bermanfaat kehadiran selama ini kecuali kebanyakan kepada atasan dan rumahnya sendiri yang asyik mereka buat sesejuk dan senyaman mungkin walau mesti merampok yang harusnya menjadi hak rakyat jelantah untuk diperjuangkan di gedung keterwakilan tetapi malah mereka-meraka ubah gedung keterwakilan itu sebagai sarang penyamun. Dan ini terus berlangsung sejak revolusi gagal dan diteruskan sejak pembangunan lengser lalu berlanjut dimulai dari reformasi yang kebablasan repotngasihnya hingga kini Bagong yang jadi raja, rakyat jelantah hanya dicekoki yel-yel keadilan sosialnya atau hanya digelondongi dengan pidato-pidato yang membakar untuk mimpi kesejahteraannya.
Mereka-mereka yang menikmati sejuk dan nyaman dalam rumah-rumah politik masing-masing tetap akan mempertahankan sejuk dan nyaman itu bagaimana bisa abadi hingga keanak cucu menantu kerabah dan kedekatan.
Cobalah semenit saja, kalau mereka-mereka memikirkan para rakyat jelantah agar tidak hitam bagaimana caranya agar jelantah itu kembali jernih tanpa penyulingan agar yang cari hari ini itu pun masih kurang dapat terpenuhi layak.Rasanya mustahil mau berpikir karna mereka-mereka hanya berasumsi-asumsi seperti asumsi bubur sum-sum dengan gula merah pohon beringin tumbang atau asumsi anak digigit harimau buaya si anak banteng hingga akhirnya dapat grasi bukan berpikir selayaknya pemikir,mereka-mereka hanya lihat mengendus tahta dan mengibas ekor bukan pejuang keadian sosial lintas bhineka tunggal ika.
Sekian.
SigondrongDalamDiam
*Seniman LabuhanBatu.
*Tulisan ini hanyalah hiburan semata-mata yang bertujuan meningkatkan minat baca, bila ada tokoh dan tempat serta kejadian semata-mata hanyalah kebetulan bukan unsur kesengajaan.
*Gambar hanya pemanis tulisan


Social Plugin