Malam memuncak menetaskan tangisnya
Pada helai-helai daun
terpisah
Air mata itu bening
dan tawar
Menjadi asin terpandang mataku
Dalam dingin yang terasing hangat
Lilitan rintih perih di kedalaman perut ini
Bagaikan bius tajam menikam
Setelah sore tadi terpukulkan tanganku
Wajahmu yang dekat
Tersenyum nikmat
Puas,menjadi penyampai dakwaan dan hakim
Aku
terputuskan sakat kekat
yang menanti sekarat
Pada helai-helai daun
terpisah
Air mata itu bening
dan tawar
Menjadi asin terpandang mataku
Dalam dingin yang terasing hangat
Lilitan rintih perih di kedalaman perut ini
Bagaikan bius tajam menikam
Setelah sore tadi terpukulkan tanganku
Wajahmu yang dekat
Tersenyum nikmat
Puas,menjadi penyampai dakwaan dan hakim
Aku
terputuskan sakat kekat
yang menanti sekarat
(2)
Di dalam hujan malam
Ku berjalan padamkan amarah
Membiarkan renta tubuh ini basah
Sampai puncaknya dingin menjadi selimut
Amarah masih jua kental membalut
Bersama kecintaian yang keriput
Rindu ini semaput
Hujan mulai mereda
Renta tubuh ku kini berkabut gigil
Aku kehilangan tungku
Hingga hangat hanya dalam khayal
Kepada satu wajah
Khayalku marit rebah
Mencari kepada
satu nikmat tersumbat
Amarahku terasai berkurang padat
SigondrongDalamDiam
1-2 Juli 2021





