Di panggilan singkat dengan suara napas berat,percakapan itu dimulai:
"Aku bukan pemilik proyek itu
Aku cuma disuruh
Menyulplai bahan,
Mengatur buruh,
Melaporkan pekerjaan yang telah selesai, pekerjaannya tapi tak pernah selesai dengan tenang
Karna aku kini jadi tumbalnya".
Kemudian panggilan singkat itu terputus.
Suasana menjadi sunyi
Lalu tampil pemberitahuan pesan masuk
Uang yang sudah mengalir itu
Enam ratus lima puluh juta mengalir
Uang Depe, katanya.
Dia pemilik proyek
Dia yang tandatangan,
Dia yang suruh aku transfer seratus delapan puluh juta ke urat keting
Katanya “kasih saja, nanti beres”.
Beres?
Sekarang aku yang dituduh.
Namaku yang ditulis di berkas perkara.
Aku ditinggal sendirian
Menghadapi tuntutan
Dan tuntutan sudah kuhadapi
Kujalani dengan jalan mengikhlaskan
Lalu aku dituntut lagi
Pemilik lepas tangan
Melepaskan ikatan,padahal semua permainannya
Lalu aku di tuntut lagi
si Naga Indra
Sebagai alat pelaksana teknis kegiatan
Sebagai dewa yang harus dikawani katanya
Tapi lebih mirip pengutip pajak tak bertuan
Satu persen dari para-para di dapur dapat bagiannya
LIma belas juta untuk makmal beton
yang tak pernah diuji
Sepuluh juta untuk pengukuran ulang
yang tak pernah diukur-ukir sampai kelar,mungkin meterannya hilang
Sembilan puluh juta total-total mengalir juga untuk si Naga Indra sang dewa
Dan semua itu,
Semua itu,
Atas perintah Malaikat penjaga surga
si pemilik proyek yang tak berani ditampilkan sang penuntut penuduh kerugian
Walau namanya telah berulang-ulang disebut
Di Sirandorung,
Bulan Juni tiga puluh lima juta,
Bulan Juli tiga puluh juta lagi
Di Castelo lima belas juta,
Di Gelas batu dua sepuluh juta
Itu semua—untuk siapa?
Untuk si Naga pelaksana teknis dan untuk Malaikat penjaga surga
Kata malaikat penjaga surga
“Urusan administrasi biar aku”.
Aku nurut.
Karena aku pikir proyek itu proyek halal
Proyek untuk umat kedepannya
Untuk orang sakit
Tapi nyatanya...
Aku yang sakit sekarang
Lepas dari tangkapan kakap masuk jaring tangkapan para pesulap
Yang menyulap pemilik proyek hilang dari berkas
Aku kini yang dipaksa jadi pemilik proyek
Lima ratus juta kuberikan ke Wahyu si pemberi petunjuk itu
Dan ke Kamalari Tonga
atas suruhan malaikat penjaga surga
Lalu Kamalari Tonga kasih lagi ke si Mon Balon
atas suruhan Malaikat penjaga surga
Kau tahu?
Aku pikir Malaikat penjaga surga itu benar-benar penjaga surga
Namun ternyata malaikat penjaga surga itu adalah Moster Rakus Duit
Setiap malam aku hitung lagi uang itu
Hitung lagi kesalahanku dimana?
Dan nyatalah kesalahanku itu terlalu percaya dengan malaikat yang wujud aslinya adalalah Moster Rakus Duit
Hingga kini menjelma jerat
Hampir satu miliar sama Malaikat penjaga surga si Moster Rakus Duit, itu uang mengalir
Dan itu aku tidak salah hitung
Sebab jika yang kecil-kecil seperti sejuta, dua juta tiga juta tak masuk kerah
Kalau aku semua sudah kupulangkan
Termaksud upah yang kuterima pun kupulangkan
Kalau upah buruh yang kerja ya harus dibayarkan kan
Bagian ku-nya, aku sudah pulangkan
Saat ditangkap kakap lalu
Dan kini jadi tanggapan pesulap
Aku sudah tak punya apa-apa
Kecuali punya paksaan yang ditujukan padaku untuk kuakui kalau akulah pemiliknya
Jangankan uang kehormatanku pun sudah habis ditelan Moster Rakus Duit
Tapi Moster Rakus Duit itu
Dia yang punya proyek,
Dia yang atur uang,
Dia pula yang tak tersentuh
Benar-benar tajam kebawah tumpul ke atas mata pedang yang dibuat untuk membunuhku
Ibarat luka yang belum sembuh
Disiram asam disiram garam dan ditempelein belacan
Inilah aku sekarang
Retak dilangit meratap dibumi
Kalau pun bisa uang itu kembali
Aku lebih memilih
“Pidanakan saja lah, Moster Rakus Duit dan kawanan itu,biar jumpa kami di satu sel neraka”
Biar dia juga rasakan apa yang kurasakan
Sakit kali,
Sakitnya bukan di badan
Tapi di nama baik yang dipenjarakan.
Di mata anak yang tak tahu apa-apa namun menyaksikan bapaknya terkurung di siksa
Di istri yang bertanya pelan,
"Abang kerja buat siapa, sebenernya?"
Aku diam, menyesali yang kini menjadi tumbal proyek pesugihan Moster Rakus Duit
Di Meja sidang tangkap tangan kakap yang telah selesai kulalui
Kini meja sidang tangkap pesulap kerugian katanya
Namaku dibicarakan seimbang sepihak
Penuntut bilang: aku pemilik proyek pesugihan
Aku bantah: bukan!
Moster Rakus Duit, dia pemiliknya!
Lihat aliran uangnya
Semua ke dia,
semua lewat dia dan semua-semua melalui dia
Tapi siapa yang percaya suaraku yang tak punya koneksi di ruang sidang
Untuk mengatur seperti yang kini diatur untukku sebagai pemilik
Bapakku bukan pejabat yang berkuasa, ibuku apalagi
Aku hanya bicara kejujuran
Meja sidang bicara ada uang, tak ada hukuman
Aku masih ingat malam itu di Castelo,
Moster Rakus duit itu bilang:
"Kerjakan lapangan aja, urusan administrasi biar si Naga Indra."
Aku bodoh.
Aku percaya.
Kutelan perintah itu seperti minum racun yang manis.
Kini racunnya menggerogoti hidupku
Menghancurkan nama keluarga kecilku
Bukan lagi isteriku anakku yang menanggung malu
Ibu,
Bapak
dan semua saudara-saudaraku
Aku jadi tumbal proyek
Yang tandatangan di kontrak itu bukan aku.
si pura nomo segar
Wakil direktur Cara Versi Tiga Selamat
Mereka bertiga selamat
Aku yang dipenjara
Yang punya proyek Moster Rakus Duit
Yang menikmati dia dan kawanannya
Yang menanggung
Aku.
Aku menulis semua ini agar dunia tahu,
Bahwa proyek itu bukan cuma soal uang,
Tapi soal siapa yang dikorbankan
Demi tanda tangan di selembar kertas
Cukup hanya aku jadi tumbal pesugihan proyek si kawanan moster rakus duit
Dan malam ini,
Aku bersaksi
Bukan di depan hakim,
tapi di depan Tuhan
Atasnama anak-anakku yang telah menderita
Bukan karna kelakuan ku sebagai orangtuanya
Tapi karna Moster Rakus Duit yang menjadikan aku tumbal proyek untuk kekayaannya
Tuhan..
Apa yang kualami maka begitulah kelak dialaminya
SigondrongDalamDiam
November2025
*Monolog ini di sadur berdasarkan kisah nyata seseorang
"Aku bukan pemilik proyek itu
Aku cuma disuruh
Menyulplai bahan,
Mengatur buruh,
Melaporkan pekerjaan yang telah selesai, pekerjaannya tapi tak pernah selesai dengan tenang
Karna aku kini jadi tumbalnya".
Kemudian panggilan singkat itu terputus.
Suasana menjadi sunyi
Lalu tampil pemberitahuan pesan masuk
Uang yang sudah mengalir itu
Enam ratus lima puluh juta mengalir
Uang Depe, katanya.
Dia pemilik proyek
Dia yang tandatangan,
Dia yang suruh aku transfer seratus delapan puluh juta ke urat keting
Katanya “kasih saja, nanti beres”.
Beres?
Sekarang aku yang dituduh.
Namaku yang ditulis di berkas perkara.
Aku ditinggal sendirian
Menghadapi tuntutan
Dan tuntutan sudah kuhadapi
Kujalani dengan jalan mengikhlaskan
Lalu aku dituntut lagi
Pemilik lepas tangan
Melepaskan ikatan,padahal semua permainannya
Lalu aku di tuntut lagi
si Naga Indra
Sebagai alat pelaksana teknis kegiatan
Sebagai dewa yang harus dikawani katanya
Tapi lebih mirip pengutip pajak tak bertuan
Satu persen dari para-para di dapur dapat bagiannya
LIma belas juta untuk makmal beton
yang tak pernah diuji
Sepuluh juta untuk pengukuran ulang
yang tak pernah diukur-ukir sampai kelar,mungkin meterannya hilang
Sembilan puluh juta total-total mengalir juga untuk si Naga Indra sang dewa
Dan semua itu,
Semua itu,
Atas perintah Malaikat penjaga surga
si pemilik proyek yang tak berani ditampilkan sang penuntut penuduh kerugian
Walau namanya telah berulang-ulang disebut
Di Sirandorung,
Bulan Juni tiga puluh lima juta,
Bulan Juli tiga puluh juta lagi
Di Castelo lima belas juta,
Di Gelas batu dua sepuluh juta
Itu semua—untuk siapa?
Untuk si Naga pelaksana teknis dan untuk Malaikat penjaga surga
Kata malaikat penjaga surga
“Urusan administrasi biar aku”.
Aku nurut.
Karena aku pikir proyek itu proyek halal
Proyek untuk umat kedepannya
Untuk orang sakit
Tapi nyatanya...
Aku yang sakit sekarang
Lepas dari tangkapan kakap masuk jaring tangkapan para pesulap
Yang menyulap pemilik proyek hilang dari berkas
Aku kini yang dipaksa jadi pemilik proyek
Lima ratus juta kuberikan ke Wahyu si pemberi petunjuk itu
Dan ke Kamalari Tonga
atas suruhan malaikat penjaga surga
Lalu Kamalari Tonga kasih lagi ke si Mon Balon
atas suruhan Malaikat penjaga surga
Kau tahu?
Aku pikir Malaikat penjaga surga itu benar-benar penjaga surga
Namun ternyata malaikat penjaga surga itu adalah Moster Rakus Duit
Setiap malam aku hitung lagi uang itu
Hitung lagi kesalahanku dimana?
Dan nyatalah kesalahanku itu terlalu percaya dengan malaikat yang wujud aslinya adalalah Moster Rakus Duit
Hingga kini menjelma jerat
Hampir satu miliar sama Malaikat penjaga surga si Moster Rakus Duit, itu uang mengalir
Dan itu aku tidak salah hitung
Sebab jika yang kecil-kecil seperti sejuta, dua juta tiga juta tak masuk kerah
Kalau aku semua sudah kupulangkan
Termaksud upah yang kuterima pun kupulangkan
Kalau upah buruh yang kerja ya harus dibayarkan kan
Bagian ku-nya, aku sudah pulangkan
Saat ditangkap kakap lalu
Dan kini jadi tanggapan pesulap
Aku sudah tak punya apa-apa
Kecuali punya paksaan yang ditujukan padaku untuk kuakui kalau akulah pemiliknya
Jangankan uang kehormatanku pun sudah habis ditelan Moster Rakus Duit
Tapi Moster Rakus Duit itu
Dia yang punya proyek,
Dia yang atur uang,
Dia pula yang tak tersentuh
Benar-benar tajam kebawah tumpul ke atas mata pedang yang dibuat untuk membunuhku
Ibarat luka yang belum sembuh
Disiram asam disiram garam dan ditempelein belacan
Inilah aku sekarang
Retak dilangit meratap dibumi
Kalau pun bisa uang itu kembali
Aku lebih memilih
“Pidanakan saja lah, Moster Rakus Duit dan kawanan itu,biar jumpa kami di satu sel neraka”
Biar dia juga rasakan apa yang kurasakan
Sakit kali,
Sakitnya bukan di badan
Tapi di nama baik yang dipenjarakan.
Di mata anak yang tak tahu apa-apa namun menyaksikan bapaknya terkurung di siksa
Di istri yang bertanya pelan,
"Abang kerja buat siapa, sebenernya?"
Aku diam, menyesali yang kini menjadi tumbal proyek pesugihan Moster Rakus Duit
Di Meja sidang tangkap tangan kakap yang telah selesai kulalui
Kini meja sidang tangkap pesulap kerugian katanya
Namaku dibicarakan seimbang sepihak
Penuntut bilang: aku pemilik proyek pesugihan
Aku bantah: bukan!
Moster Rakus Duit, dia pemiliknya!
Lihat aliran uangnya
Semua ke dia,
semua lewat dia dan semua-semua melalui dia
Tapi siapa yang percaya suaraku yang tak punya koneksi di ruang sidang
Untuk mengatur seperti yang kini diatur untukku sebagai pemilik
Bapakku bukan pejabat yang berkuasa, ibuku apalagi
Aku hanya bicara kejujuran
Meja sidang bicara ada uang, tak ada hukuman
Aku masih ingat malam itu di Castelo,
Moster Rakus duit itu bilang:
"Kerjakan lapangan aja, urusan administrasi biar si Naga Indra."
Aku bodoh.
Aku percaya.
Kutelan perintah itu seperti minum racun yang manis.
Kini racunnya menggerogoti hidupku
Menghancurkan nama keluarga kecilku
Bukan lagi isteriku anakku yang menanggung malu
Ibu,
Bapak
dan semua saudara-saudaraku
Aku jadi tumbal proyek
Yang tandatangan di kontrak itu bukan aku.
si pura nomo segar
Wakil direktur Cara Versi Tiga Selamat
Mereka bertiga selamat
Aku yang dipenjara
Yang punya proyek Moster Rakus Duit
Yang menikmati dia dan kawanannya
Yang menanggung
Aku.
Aku menulis semua ini agar dunia tahu,
Bahwa proyek itu bukan cuma soal uang,
Tapi soal siapa yang dikorbankan
Demi tanda tangan di selembar kertas
Cukup hanya aku jadi tumbal pesugihan proyek si kawanan moster rakus duit
Dan malam ini,
Aku bersaksi
Bukan di depan hakim,
tapi di depan Tuhan
Atasnama anak-anakku yang telah menderita
Bukan karna kelakuan ku sebagai orangtuanya
Tapi karna Moster Rakus Duit yang menjadikan aku tumbal proyek untuk kekayaannya
Tuhan..
Apa yang kualami maka begitulah kelak dialaminya
SigondrongDalamDiam
November2025
*Monolog ini di sadur berdasarkan kisah nyata seseorang





