Notification

×

Iklan

Iklan

Tugu Simpang Enam Rantau Prapat Kabupaten LabuhanBatu

Selasa, 16 Juni 2026 | Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T15:44:19Z
Jika merujuk pada KBBI kata Tugu diartikam tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu, bata, dan sebagainya, lain lagi artinya tugu pahlawan yakni tugu untuk memperingati pahlawan yang gugur dalam perang atau tugu peringatan bangunan yang didirikan sebagai tanda untuk mengingat peristiwa penting, peristiwa bersejarah, atau untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa.
Membahas tugu di kampung kelahiranku ada beberapa tugu yang tegak berdiri entah itu hanya sebagai bangunan tinggi yang penandakan peringatan atau juga sebagai bangunan kokoh untuk menghormati jasa para pahlawan,apa pun itu tugu itu pasti mempunyai nilai sejarah saat dibangunnya. 

Jika kuputar kembali ingatan akan sebuah tugu di kampungku maka ada tugu yang bersejarah diingatanku dariku kanak-kanak.Dari masa ke masa pemimpinnya yang biasa disebut masyarakat tempatan dengan sebutan tugu simpang enam yang terletak di antara jalan H M Thamrin,Jend iSudirman ,H. Agus Salim,Tuanku Imam Bonjol ,Gatot Subroto dan Cut Nyak Dhien.
Sejarahnya dahulu ditempat itu sebelum menjadi Tugu adalah sebuah timbangan untuk kendaraan roda empat lalu berubah menjadi tugu Jam mirip-mirip Tugu Jam Gadang di pusat kita bukit tinggi cuman jika disana menara di kampungku tugu.hingga sampai tahun 2000an tugu jam itu berubah menjadi pohon sawit yang tak menariknya ada pula patung ukuran mini seorang wanita dengan seragam lengkap kepolisian yang kemudian kurang lebih 2tahunan patung itu pindah tugas ke Aeknabara sampai tugas akhirnya simpang bukit Kota Pinang,uika tak salah ingat. 

Di samping tugu simpang enam ada juga tugu pahlawan walau pun berdiri di atas tanah yang kurang lebih kira-kiea 3×4meteran tugu tersebut dahulunya ada taman kecilnya yang digunakan muda-mudi zaman dahulu untuk nongkrong karna untuk selfi masa itu kodak photo masih jadi barang mahal,uniknya entah siapa yang memulai di taman itu ada disebutkan batu pikir yakni sebuah batu tempat tongkrongan yang mana bila duduk disitu dikatakan sedang berpikir atau mencari inspirasi.
Kala itu di kampungku masih banyak pohon-pohon besar nan rindang di tengah-tengah jalan mau pun di pinggir-pinggir jalan,benar-benar kota Asri dan Idaman.
Masih ada bioskop Ria yang terakhir berubah jadi Studio21 dan bioskop Citra yang terletak tidak jauh dari seputaran area tugu ditambah bioskop Garuda di jalan Diponegoro walau hanya ada satu tempat karoukean untuk para pengunjung yang tidak hanya cukup uang tapi harus cukup umurnya yakni terletak di samping bioskop Citra.
Kini semuanya berubah,jangankan bioskopnya kantor pajak dan pendapatan daerah pun tiada lagi bertetangga dengan kantor BRI pun sudah berubah bangunan walau pun masih di situ di jalan Jend Sudirman.
Makin tak menariknya lagi tugu jam simpang enam yang diganti pohon sawit oleh bupati masa itu yakni Bapak HT Milwan diganti Bapak Tigor yang menjabat Bupati kala itu dengan Tugu entah apa namanya karna tugu yang dibangun kala itu sangat jauh untuk dijadikan icon daerah yang bersemboyan Ika Bina enpa Bolo sesuai permintaan pasar kritikus pada masa itu,kini di masa Era tugu itu dibongkar habis entah mau dibuat apa lagi itu tugu di simpang enam namun yang pasti dengan dana Rp 310.235.000 simpang enam itu akan tetap dibangun tugu peringaan bahwa masa itu si anu pemimpinnya ini seolah ingin ditulis dalam sejarah negeri dengan bangunan tugu dengan menghancurkan tugu.
Ya.. walau pun baru kali ini dengan pembangunannya menggunakan anggaran yang bukanlah berasal dari anggaran pendapat daerah (APBD) melainkan daerah pihak lain (CSR) namun jika mengingat kanan kiri jalan bahkan ditengah-tengah tak sedikit jalan yang berlubang maka pembangunan tugu simpang enam bisa dikatakan fenomenal di era pandemi yang belum usai di saat krisis pembangunan dari pemimpin satu kepemimpin lainnya dan ini bukan hanya di Ibu Kota Rantau Prapat tapi juga jalan-jalan di dalam 9 kecamatan sampai sekarang masih ada jalan yang berlubang-lubang. 

Nyaris sukar mencari bangunan bersejarah di kampungku,baik itu yang telah berumur dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan karna para pejabatnya dimasa gaung kemerdekaan ini tidak merawat bangunan bersejarah tersebut tapi ingin dicatat dalam sejarah ditengah rakyatnya yang belum merasakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. 

Gilanya lagi para pejabat berjas dan berdasi di gedung terhormat itu pun bagai tiada peduli akan histori kejayaan labuhanbatu dan seolah telah hilang semangat ikut membangunnya ini terbukti ditiap pengajuan rancangan anggaran belanja daerah selalu sepakat menandatangani dengan ketok palu hingga menjadikan daerah Ika Bina Enpa Bolo dari zaman ke zaman tetap tiada tersentuh pembangunan alias tiada perubahannya kecuali pengusaha yang mendirikan plaza-plaza atau pun kini para usahawan yang membuka usaha warung-warung kopi (caffe) yang mengurangi angka pengangguran hingga agak sedikit terlihat tudak ketinggalan zaman kota LabuhanBatu,jika mengharapkan Pemerintah daerahnya maka itu bagaikan api jauh dari panggangan. 

Mungkin jika tidak ada sosok Bapak Amarullah Nasution yang mendirikan Universitas LabuhanBatu maka tak ada yang memulai dunia perkampusan di kampungku karna dari dulu hingga sekarang saja untuk sekolah negeri dari SD,inpres hingga SMP dan SMA yang negeri itu-itu saja kalau pun nambah itu pun masih satu atap,ini dapat menjelaskan bahwa pendidikan di LabuhanBatu kurang dapat perhatian jadi pantas jika pendidikan itu masih mahal yang menandakan pulalah daerah kampungku susah berkembang karna pendidikan tidak dinomer satukan oleh pemerintah daerahnya.

Pada hal sejak LabuhanBatu mekar jadi 3 kabupaten melalui Undang-undang otonomi daerah harusnya semakin giat membangun namun sampai hari ini LabuhanBatu terus saja tertinggal dari segi infrastrukturnya mau pun pelayanan publiknya.

Jika Askesda dapat dihapuskan,biaya siswa ditiadakan maka jangan heran jika tugu simpang enam pun dibongkar walau kesemua itu menggunakan uang rakyat karna dianggapkan tidak tren yang merenovasi itu tanpa membongkar habis. 




Apa pun jadinya bentuk Tugu simpang enam itu adalah murni kemauan Pemkab dan pihak pemberi CSR sebab kemauan masyarakat adalah membolo(memperbaiki) yang tidak baik itu seperti budaya Korupsi,Nepotisme dan Kolusi yang dihabcurian habis karna itu yang menghambat masyarakat menemui keadilan sosial.

Dan apa pun nanti cerita 2024 janganlah ganti bupatinya sebab dikuatirkan jika ganti bupati ganti lagi tugu simpang enamnya.

Sigondrongdalamdiam
×
Berita Terbaru Update