Serbaserbi.SDD.Labuhanbatu. Asap dapur yang biasanya mengepul setiap pagi dari rumah-rumah warga yang bersemayam tabung gas melon 3kg kini meredup diganti antrean mengular karna langka. Kelangkaan gas LPG subsidi 3 kilogram yang terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Labuhanbatu telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada gas bersubsidi untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Keluhan warga ramai beredar melalui media sosial dan menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat.
Dalam unggahan yang viral, terlihat warga berbondong-bondong mengantre untuk mendapatkan tabung gas melon. Namun, harapan mereka sering kali berakhir kecewa. Banyak pangkalan dilaporkan kehabisan stok, sementara di tingkat pengecer harga gas subsidi tersebut disebut telah mencapai sekitar Rp28.000 hingga Rp30.000 per tabung, jauh lebih tinggi dibanding harga yang diharapkan masyarakat melalu ketatapan pemerintah pusat.
Bagi sebagian orang, kelangkaan ini mungkin hanya persoalan distribusi. Namun bagi rakyat kecil, gas 3 kilogram adalah nyawa dapur keluarga. Di balik setiap tabung yang sulit ditemukan, ada ibu rumah tangga yang kebingungan menyiapkan makanan untuk anak-anaknya. Ada pedagang kecil yang khawatir usahanya terhenti karena tak mampu membeli bahan bakar memasak dengan harga yang semakin mahal.
Sejumlah warga mengaku harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan satu tabung gas. Tak sedikit pula yang pulang dengan tangan kosong setelah menghabiskan waktu dan biaya mencari kebutuhan pokok tersebut. Kondisi ini disebut telah dirasakan di berbagai kecamatan dan diduga meluas hampir ke seluruh wilayah Kabupaten Labuhanbatu bahkan dikabarkan sudah merambah ke Kabupaten sebelah yakni Kabupaten Labura dan Labusel.
Dengan fenomena kelangkaan ini masyarakat Labuhanbatu yang diwakili warga miskin pengguna tabung gas bersubsi meminta Bupati Maya menunjukkan sinarnya agar pemerintah daerah segera turun tangan, melakukan pengawasan distribusi, memastikan pasokan kembali normal, dan menindak tegas apabila terdapat oknum yang memainkan distribusi gas subsidi. Mereka berharap gas yang memang diperuntukkan bagi masyarakat miskin dapat kembali dinikmati oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
Kelangkaan gas bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah potret tentang bagaimana kebutuhan dasar rakyat harus dijaga. Ketika tabung-tabung hijau itu menghilang dari pangkalan, yang sesungguhnya sedang diuji adalah kehadiran negara di tengah rakyat kecil.
Kini, masyarakat Labuhanbatu menanti langkah nyata. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap dapur kembali menyala, anak-anak dapat makan tepat waktu, dan agar gas subsidi kembali tersedia dengan harga yang terjangkau bagi seluruh rakyat yang berhak menerimanya.
Kelangkaan gas bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah potret tentang bagaimana kebutuhan dasar rakyat harus dijaga. Ketika tabung-tabung hijau itu menghilang dari pangkalan, yang sesungguhnya sedang diuji adalah kehadiran negara di tengah rakyat kecil.
Kini, masyarakat Labuhanbatu menanti langkah nyata. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap dapur kembali menyala, anak-anak dapat makan tepat waktu, dan agar gas subsidi kembali tersedia dengan harga yang terjangkau bagi seluruh rakyat yang berhak menerimanya.







