SerbaSerbi.SDD.24/5/2026.
Asap itu membumbung ke langit Kampung Baru.api menjilat dinding-dinding lapak yang selama ini disebut-sebut sebagai tempat lalu lalang transaksi serbuk haram yang merampas masa depan generasi muda dikampung itu,kesemua itu terjadi berkat keberanian seorang ibu yang tak lagi sanggup menyimpan cemas. Ia melangkah, bersuara, dan menggugat keadaan yang selama ini dianggap biasa.
Video itu kemudian berlari dari layar ke layar, dari satu percakapan ke percakapan lain. Publik menaruh perhatian. Aparat bergerak. Tak lama kemudian, lapak yang diduga menjadi tempat aktivitas narkoba itu pun dibakar aparat khusus dibidangnya.
Mungkin bagi sebagian orang, api tersebut adalah jawaban dan api tersebut sebuah tanda bahwa negara hadir mendengar keresahan rakyatnya. Namun bagi sebagian yang lain, asap yang mengepul itu justru membawa sebuah pertanyaan yang belum terjawab:
Jika lapaknya telah menjadi abu, lalu ke mana bandarnya?
Karna sesungguhnya, lapak hanyalah panggung. Ia bukan sutradara dari pertunjukan gelap yang selama ini berlangsung. Ia hanya tempat singgah, hanya dinding dan atap yang digunakan oleh tangan-tangan yang lebih besar, oleh mereka yang mengendalikan peredaran dari balik bayang-bayang.
Membakar lapak memang dapat menghilangkan bentuk fisiknya. Tetapi apakah api juga telah membakar jaringannya? Apakah bara itu telah menyentuh para pemasok, para pengedar, dan mereka yang menikmati keuntungan dari rusaknya masa depan anak-anak bangsa?
Narkoba tidak lahir dari sepotong papan dan seng yang berdiri di pinggir kampung. Ia tumbuh dari jaringan yang terorganisir, dari keberanian para pelaku yang merasa aman, dan dari sistem yang gagal memutus rantainya hingga ke akar.
Karena itu, masyarakat tidak hanya menunggu kabar tentang bangunan yang rata dengan tanah. Mereka menunggu kabar tentang borgol yang terpasang di tangan para bandar. Mereka menunggu pengungkapan yang terang, proses hukum yang tegas, serta keberanian untuk menyentuh siapa pun yang berada di belakang bisnis haram tersebut.
Keberanian seorang ibu yang bersuara seharusnya menjadi lonceng yang menggema jauh lebih keras daripada suara kayu yang terbakar. Itu adalah tanda bahwa masyarakat mendambakan lingkungan yang benar-benar bersih dari narkoba, bukan sekadar bersih dari simbol-simbolnya.
Yang ingin dilihat rakyat bukan hanya asap yang membubung ke langit, melainkan keadilan yang turun ke bumi.
Video itu kemudian berlari dari layar ke layar, dari satu percakapan ke percakapan lain. Publik menaruh perhatian. Aparat bergerak. Tak lama kemudian, lapak yang diduga menjadi tempat aktivitas narkoba itu pun dibakar aparat khusus dibidangnya.
Mungkin bagi sebagian orang, api tersebut adalah jawaban dan api tersebut sebuah tanda bahwa negara hadir mendengar keresahan rakyatnya. Namun bagi sebagian yang lain, asap yang mengepul itu justru membawa sebuah pertanyaan yang belum terjawab:
Jika lapaknya telah menjadi abu, lalu ke mana bandarnya?
Karna sesungguhnya, lapak hanyalah panggung. Ia bukan sutradara dari pertunjukan gelap yang selama ini berlangsung. Ia hanya tempat singgah, hanya dinding dan atap yang digunakan oleh tangan-tangan yang lebih besar, oleh mereka yang mengendalikan peredaran dari balik bayang-bayang.
Membakar lapak memang dapat menghilangkan bentuk fisiknya. Tetapi apakah api juga telah membakar jaringannya? Apakah bara itu telah menyentuh para pemasok, para pengedar, dan mereka yang menikmati keuntungan dari rusaknya masa depan anak-anak bangsa?
Narkoba tidak lahir dari sepotong papan dan seng yang berdiri di pinggir kampung. Ia tumbuh dari jaringan yang terorganisir, dari keberanian para pelaku yang merasa aman, dan dari sistem yang gagal memutus rantainya hingga ke akar.
Karena itu, masyarakat tidak hanya menunggu kabar tentang bangunan yang rata dengan tanah. Mereka menunggu kabar tentang borgol yang terpasang di tangan para bandar. Mereka menunggu pengungkapan yang terang, proses hukum yang tegas, serta keberanian untuk menyentuh siapa pun yang berada di belakang bisnis haram tersebut.
Keberanian seorang ibu yang bersuara seharusnya menjadi lonceng yang menggema jauh lebih keras daripada suara kayu yang terbakar. Itu adalah tanda bahwa masyarakat mendambakan lingkungan yang benar-benar bersih dari narkoba, bukan sekadar bersih dari simbol-simbolnya.
Yang ingin dilihat rakyat bukan hanya asap yang membubung ke langit, melainkan keadilan yang turun ke bumi.
Program Presisi yang selama ini digaungkan menuntut penegakan hukum yang tidak berhenti pada permukaan. Sebab akar persoalan tidak berada pada bangunan yang terbakar, melainkan pada orang-orang yang menghidupkan peredaran itu setiap hari.
Jika semangatnya adalah bahwa tidak ada tempat bagi narkoba, maka semangat itu harus pula diwujudkan dalam keberanian memburu para pengedar, bandar, hingga aktor-aktor besar yang bersembunyi di balik mereka.
Karena pada akhirnya, yang paling dinanti masyarakat bukanlah kabar tentang lapak yang dibakar.
Melainkan kabar bahwa bandar besar telah ditangkap, jaringan telah diputus, dan hukum benar-benar berdiri tanpa pandang bulu.
Sebab dalam perang melawan narkoba, musuh sesungguhnya bukan bangunan yang berdiri di atas tanah.
Melainkan manusia-manusia yang menjadikan kehancuran sebagai ladang keuntungan.
Jika semangatnya adalah bahwa tidak ada tempat bagi narkoba, maka semangat itu harus pula diwujudkan dalam keberanian memburu para pengedar, bandar, hingga aktor-aktor besar yang bersembunyi di balik mereka.
Karena pada akhirnya, yang paling dinanti masyarakat bukanlah kabar tentang lapak yang dibakar.
Melainkan kabar bahwa bandar besar telah ditangkap, jaringan telah diputus, dan hukum benar-benar berdiri tanpa pandang bulu.
Sebab dalam perang melawan narkoba, musuh sesungguhnya bukan bangunan yang berdiri di atas tanah.
Melainkan manusia-manusia yang menjadikan kehancuran sebagai ladang keuntungan.






