Notification

×

Iklan

Iklan

Dari padang Rumput Tebing Tinggi Pangkatan, Harapan Baru Ekonomi Labuhanbatu Mulai Digembalakan

Rabu, 03 Juni 2026 | Juni 03, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T09:10:41Z


SerbaSerbi.SDDLabuhanbatu.
Di tengah hamparan lahan yang selama ini menjadi saksi kehidupan masyarakat desa, sebuah harapan baru mulai ditambatkan. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu resmi menetapkan Desa Tebing Tinggi Pangkatan sebagai kawasan peternakan sapi potong berbasis Kelompok Tani Ternak (KTT), sebuah langkah yang bukan hanya berbicara tentang ribuan ekor sapi, tetapi juga tentang masa depan ekonomi masyarakat yang perlahan sedang dibangun dari kandang-kandang peternak.

Keputusan itu lahir setelah tim verifikasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Hasilnya, Desa Tebing Tinggi Pangkatan dinilai memenuhi syarat untuk menjadi kawasan pengembangan peternakan unggulan.

Di atas lahan seluas kurang lebih 10.000 meter persegi, kini berdiri sebuah kawasan yang menaungi populasi 2.721 ekor sapi potong. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.769 ekor merupakan indukan produktif yang menjadi tumpuan keberlanjutan usaha peternakan di masa mendatang.


Namun angka-angka itu hanyalah permukaan dari cita-cita yang lebih besar.

Bagi Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, penetapan kawasan ini bukan sekadar menambah populasi ternak atau memperluas areal peternakan. Di baliknya tersimpan gagasan membangun sebuah ekosistem ekonomi yang terhubung dari hulu hingga hilir. Dari penyediaan pakan, pembibitan, penggemukan ternak, pengolahan hasil, hingga pemasaran, semuanya dirancang menjadi satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Wakil Bupati Labuhanbatu yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan kawasan peternakan tidak diukur dari banyaknya sapi yang dipelihara, melainkan dari kemampuan kawasan itu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, kelompok tani ternak, serta seluruh pemangku kepentingan harus berjalan seiring agar produktivitas meningkat, pendapatan masyarakat bertambah, dan daya saing daerah semakin kuat.

Di sisi lain, kawasan ini juga menjadi bagian dari program strategis Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam pengembangan kawasan pertanian komoditas peternakan. Melalui program tersebut, Tebing Tinggi Pangkatan diproyeksikan menjadi model pengembangan peternakan yang terencana, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, kawasan ini diharapkan menjadi titik temu antara sektor perkebunan dan peternakan. Labuhanbatu yang selama ini dikenal sebagai daerah perkebunan memiliki peluang besar untuk mengembangkan konsep integrasi kedua sektor tersebut. Limbah perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan, sementara limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk organik yang kembali menyuburkan lahan.



Sebuah siklus ekonomi yang saling menghidupi.

Karena itu, pemerintah juga mendorong berbagai inovasi di kawasan ini. Mulai dari pengembangan pakan berbasis sumber daya lokal, penerapan manajemen peternakan modern, pemanfaatan pupuk organik, hingga penguatan kemitraan dengan dunia usaha dan lembaga keuangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kepala Dinas Peternakan, Kepala Bappeda, DPMPTSP, Camat Pangkatan, Pelaksana Tugas Kepala Desa Tebing Tinggi Pangkatan, jajaran Dinas Peternakan, serta anggota Kelompok Tani Ternak yang selama ini menjadi ujung tombak pengembangan peternakan di desa tersebut.

Di Tebing Tinggi Pangkatan, suara lenguh sapi kini tak lagi sekadar penanda aktivitas peternakan rakyat. Ia mulai menjadi simbol harapan baru—bahwa dari desa, dari kandang-kandang sederhana, dan dari kerja sama banyak pihak, sebuah kekuatan ekonomi dapat tumbuh untuk menggerakkan Labuhanbatu menuju masa depan yang lebih mandiri berkelanjutan untuk masa depan.



×
Berita Terbaru Update