SerbaSerbi.SDD.
Pagi itu druang rektorat yang dipenuhi cahaya harapan, sejarah kecil kembali dituliskan oleh tangan-tangan yang percaya bahwa masa depan tak pernah lahir dari kesendirian. Pada Selasa, 26 Mei 2026, Universitas Labuhanbatu dan PT Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (Perseroda) Cabang Rantauprapat menautkan niat dalam sebuah Nota Kesepahaman—sebuah ikhtiar sunyi untuk menjembatani dunia kampus dengan denyut kehidupan nyata.
Bukan sekadar tinta di atas lembar perjanjian, MoU itu menjelma seperti jembatan yang dibangun di atas kegelisahan zaman. Sebab di tengah derasnya arus perubahan, perguruan tinggi tak lagi cukup hanya melahirkan sarjana dengan angka-angka akademik, tetapi juga manusia yang mampu berdiri tegak menghadapi kerasnya dunia kerja.
Di hadapan para wakil rektor, dekan, kepala biro, dan jajaran manajemen Bank Sumut, Rektor ULB, Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, Ph.D, menandatangani lembar kerja sama bersama Pimpinan Bank Sumut Cabang Rantauprapat, Indra Syah Edison. Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Labuhanbatu, Dr. Halomoan Nasution, S.H., M.H., turut menyaksikan momen itu dengan mata yang menyimpan keyakinan panjang tentang masa depan pendidikan di tanah Labuhanbatu.
Suasana ruangan terasa teduh, namun di balik keteduhan itu tersimpan semangat besar: membangun generasi yang bukan hanya pandai berbicara tentang mimpi, tetapi juga mampu menghidupinya.
Kerja sama itu membuka banyak pintu yang selama ini hanya tampak sebagai angan. Mahasiswa akan diberi ruang magang di berbagai divisi strategis Bank Sumut, agar mereka belajar bahwa teori tak pernah cukup tanpa keberanian menyentuh kenyataan. Seminar, pelatihan, dan workshop tentang perbankan digital serta manajemen keuangan akan menjadi lentera baru bagi generasi muda yang hidup di zaman serba cepat.
Tak berhenti di sana, para dosen dan praktisi perbankan akan dipertemukan dalam penelitian terapan—mencari jawaban atas persoalan ekonomi daerah, menggali inovasi, dan merawat harapan agar ilmu pengetahuan tidak tinggal diam di rak-rak perpustakaan.
Dalam pengabdian kepada masyarakat, kerja sama itu juga membawa wajah kemanusiaan. Program CSR diarahkan untuk menyentuh UMKM, kelompok tani, dan masyarakat binaan. Bahkan, sebuah gagasan penting mulai disusun: pinjaman pendidikan dengan skema ringan bagi mahasiswa yang nyaris kehilangan harapan karena keterbatasan biaya.
Barangkali di sanalah letak makna paling dalam dari kerja sama ini—bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena keadaan ekonomi.
“Melalui MoU ini, kami membuka ruang kolaborasi yang luas di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,” ujar Rektor ULB dengan nada penuh keyakinan. Baginya, kampus harus menjadi rumah yang mempersiapkan mahasiswa bukan hanya untuk lulus, tetapi juga untuk bertahan dan berkembang di tengah tantangan industri.
Sementara itu, Indra Syah Edison melihat kampus sebagai pusat lahirnya masa depan daerah. Ia percaya, mahasiswa bukan hanya calon pencari kerja, melainkan calon penggerak ekonomi dan pembangunan. Karena itu, Bank Sumut ingin hadir lebih dekat—bukan semata sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai mitra perjalanan generasi muda.
Ketua Yayasan ULB, Dr. Halomoan Nasution, pun menegaskan bahwa kemitraan ini adalah bukti bahwa kampus terus bergerak melampaui batas-batas lama. Sebab sebuah universitas besar bukan hanya dibangun oleh gedung dan gelar, melainkan oleh jejaring, pengalaman, dan keberanian membuka jalan baru.
Acara kemudian ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah sederhana. Namun sesungguhnya, yang tertinggal bukanlah deretan potret itu. Yang tinggal adalah keyakinan bahwa di sebuah sudut Rantauprapat, pendidikan dan dunia usaha telah saling menggenggam tangan demi masa depan yang lebih terang.
Dan mungkin, kelak dari kerja sama inilah akan lahir banyak cerita: mahasiswa yang berhasil menyelesaikan kuliah karena bantuan pendidikan, riset yang mengubah wajah ekonomi daerah, hingga anak-anak muda Labuhanbatu yang menemukan jalannya menuju mimpi.
Acara kemudian ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah sederhana. Namun sesungguhnya, yang tertinggal bukanlah deretan potret itu. Yang tinggal adalah keyakinan bahwa di sebuah sudut Rantauprapat, pendidikan dan dunia usaha telah saling menggenggam tangan demi masa depan yang lebih terang.
Dan mungkin, kelak dari kerja sama inilah akan lahir banyak cerita: mahasiswa yang berhasil menyelesaikan kuliah karena bantuan pendidikan, riset yang mengubah wajah ekonomi daerah, hingga anak-anak muda Labuhanbatu yang menemukan jalannya menuju mimpi.







