SerbaSerbi.SDD.3/5/2026
Di negeri yang rapatnya lebih panjang dari hasil kerjanya, dan di negeri yang kebanyakan papan bunga serta spanduk pencitraan kerja nyata hanya bagi-bagi sembako seperti di awal bulan mei. Di Sumatera Utara kembali dianugerahi kali ini bukan anugerah Penghargaan Creative Financing yang baru-baru ini didapat Gubernurnya tetapi sebuah anugerah pertunjukan demokrasi oleh alumni yakni Musyawarah Wilayah KAHMI 2026
Sebuah gelanggang idealisme lama yang dipoles ulang dengan pengabdian lalu diperebutkan dengan wajah-wajah pernah tersenyum mau pun tak senyum retorika ukhrawi dan kalkulasi duniawi.
Di tengah gemuruh tanpa hujan itu,muncullah seorang akademisi dengan langkah yang tidak dibuat-buat seolah aktor yang sudah dipersiapkan tampil oleh sutradara sebagaimana kebanyakan aktor calon ketua partai politik namun kali ini aktor Ade sudah cukup terdengar sampai ke meja registrasi pendidikan kiprahnya dipanggung dunia yang penuh sandiwara.
Sang rektor, Ade Parlaungan Nasution atau biasa kemauannya hanya dipanggil Bang Ade tanpa embel-embel Rektornya karna jika di kampus rutinitasnya mengurusi akreditasi bagaimana tetap jaya-jaya seperti Mars kebanggan universitas Labuhanbatu,pada Jumat yang teduh, tanggal 1 Mei 2026, formulir pun diambil.Bukan oleh beliau sendiri, sebab tokoh besar memang tidak diciptakan untuk mengantre. Formulir itu dijemput melalui mandat, sebuah tradisi feodal-modern yang mengajarkan bahwa bahkan secarik kertas pencalonan pun harus memiliki nilai dramatik.
Sehari kemudian, Sabtu 2 Mei 2026, di panggung yang sangat revolusioner dari kacamata kaum kapital yakni di Hotel GK berkas pendaftaran diserahkan dengan begitu puitis oleh karna sebuah gagasan perubahan lahir dari ruang ber-AC, lampu kristal, kopi tanpa gula dan kursi rapat berlapis sarung putih menjadikan pantas jika sejarah memang sering ditulis dari hotel hanya rakyat yang menunggu hasilnya di luar gedung.
Ade datang tidak sendirian.
Seorang calon pemimpin organisasi alumni tentu tak mungkin berjalan seperti warga biasa yang kehilangan sandal di masjid. Ia dikawal barisan tokoh,pengurus, kolega, simpatisan, dan mungkin juga beberapa orang yang masih bertanya-tanya siapa nanti yang dapat posisi bukan sekedar jadi taik burung.
Soliditas rombongan itu memberi pesan sederhana bahwa dalam politik organisasi, dukungan moral selalu lebih meyakinkan jika difoto dari sudut yang tepat, disinilah tepatnya, Ade yang pemikir membawa ritual tauhid sosial dalam mencalonannya merebuf kursi ketua. Mengutip ritual Ali Syariati, Di hadapan para pimpinan wilayah dan majelis daerah, Ade Parlaungan menghamparkan sebuah visi yang panjangnya hampir setara dengan jalan menuju realisasinya jalan tol pulau Sumatera.
“Transformasi KAHMI Sumatera Utara sebagai Episentrum Intelektual Progresif Berlandaskan Tauhid Sosial untuk Mewujudkan Masyarakat Adil Makmur yang Diridhai Allah SWT.”
Kalimat ini demikian bukan hanya jelas tapi megah dan demikian tingginya namun sarat diksi, hingga hadirin mungkin membutuhkan dua hal untuk memahaminya dengan keyakinan penuh "Notulen rapat dan oksigen tambahan biar jantung sehat raga kuat".
Kata episentrum itu dipilih, mungkin biar para KAHMI yang agamais kembali bercocok tanam kembali yang lebih intens dalam hubungan manusia dengan manusia, sebab sekarang lebih banyak bercocok tanam dengan penguasa. Sehingga penafsiran mengusung tauhid sosial terlihat seperti pusat gempa di pemikiran yang belum siap melihat KAHMI menuju lebih baik meski sejarah organisasi sering menunjukkan, yang lebih sering bergetar justru grup WhatsApp.
Kemunculan kembali puisi sakral kaum intelektual muslim seperti filosofis Ali Syariati dalam tauhid Bang Ade, bukan sekadar ritual statis.Karna Ade yang sejatinya seorang nasionalis agamais itu paham betul konsep-konsep memuliakan Tuhan harus dimulai dari memanusiakan manusia.
Demikianlah Ade Parlaungan Nasution kini resmi memasuki gelanggang dan siap untuk mencerdaskan bukan siap untuk cerdas-cerdas seperti yang sudah-sudah.
SigondrongDalamDiam






