Pagi khidmat itu setelah diperdengarkan Mars Universitas Labuhanbatu yaitu sebuah bukan hanya sebuah nyanyian melainkan hastrat dan cita-cita yang tinggi terhadap pendidikan di tanah Labuhanbatu, sejarah perlahan ditulis dengan pengabdian yang tulus di dalam naungan aula Dr. H. Amarullah Nasution, S.E., M.B.A yang menyimpan gema cita-cita. Rektor ULB Assoc. Ade Parlaungan Nasution berdiri dengan penuh wibawa. Dengan ketukan waktu yang sakral, ia mengukuhkan Novilda Elizabeth Mustamu sebagai Guru Besar sebuah gelar yang bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah bagi masa depan pendidikan bukan hanya di universitas Labuhanbatu tapi di nusantara.
Aula Amarullah dipenuhi wajah-wajah harap para akademisi, pemimpin daerah, tokoh masyarakat, hingga keluarga yang menjadi akar dari setiap perjuangan.Dan pengukuhan tersebut bukan hanya sekadar seremoni, ada getar tanpa makna yang mengalir tentang ilmu yang tak boleh berhenti di pada gelar tapi harus menjelma menjadi siklus solusi nyata.
Dalam untaian orasi ilmiahnya, Prof. Novilda menekankan pentingnya hilirisasi riset kampus. Ia memaparkan bagaimana hasil penelitian perguruan tinggi harus mampu menjawab persoalan riil masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, hingga peningkatan kualitas SDM itu artinya Ia menggambarkan kampus sebagai menara air, bukan menara gading; tempat ilmu mengalir, menyuburkan kehidupan masyarakat. Dari tanah yang subur hingga ekonomi rakyat, dari ruang kelas hingga denyut desa, ia mengajak ilmu untuk turun tangan, bukan sekadar berpikir seolah tersirat dalam gelar adalah pengabdian yang harus lebih luas menyentuh.
Ade Parlaungan Nasution sebagai Rektor di Yayasan Universitas Labuhanbatu yang sudah 28tahun berdiri bangga atas pencapaian gelar "Guru Besar" tersebut bukan hanya karena lahirnya seorang profesor, tetapi karena tumbuhnya teladan. Sosok yang tekun menulis, setia membimbing, dan menjadikan ilmu sebagai jembatan bagi masyarakat. Di balik toga dan lencana, ada perjalanan panjang yang kini menjadi cahaya bagi generasi muda.Dan ketika lencana Guru Besar disematkan, waktu seakan berhenti sejenak. Haru mengalir di antara senyum keluarga yang setia menemani, menjadi saksi bahwa setiap pencapaian besar selalu lahir dari cinta dan perjuangan yang tak terlihat.
Hari itu, bunga-bunga ucapan memenuhi halaman kampus, namun yang lebih bermekaran adalah harapan. Harapan bahwa dari kampus ini akan terus lahir cahaya-cahaya baru—para pemikir, peneliti, dan pengabdi.Sebab dengan bertambahnya seorang Guru Besar, bukan hanya gelar yang bertambah melainkan kekuatan untuk menerangi masa depan di negeri yang bukan kekurangan orang pitar tapi selalu kekurangan orang-orang yang pengabdiannya tulus membangun sejak kemerdekaan itu diraih.
SigondrongDalamDiam






