Medan itu bukan sekadar kota
Medan itu bisa menjadi "Ini Medan Bung" bukanlah secara instant kayaknya pengibas ekor sampai puncak karirnya.Medan itu adalah panci besar sejarah, tempat berbagai lidah mendidih bersama, saling meminjam rasa, saling menyesuaikan panas. Dari gang sempit hingga pesta adat, kota ini tumbuh bukan dari satu doa, satu selera, atau satu tafsir kesucian
Medan itu adalah sumber peradaban dari daerah menuju kota, dan sebuta "Ini Medan Bung " bukanlah sebjah slogan yang menggambarkan kerasnya kehidupan tanpa persahabatan melainkan justrus sebutan " Ini Medan Bung" merupankan cermin dari sebuah persahabatan yang beradab. Sejarah di mulai dari sebut saja jika di desa itu pinahan, Panangga, Lobu,Pinabi, Mengong sesudah jadi lomok-lomok sampai di medan menjadi Babi, atau sebut saja Biang, Jalaki, Asu ,yang juga sampai medan menjadi Anjing.
Di Medan, babi dan anjing bukan hanya daging.Ia adalah bahasa.Ia adalah warisan.
Ia adalah cara sebagian warga berkata: " Kami Ada ".
Walau kini, bahasa itu dilarang disebutkan dengan emosi ataupun dengan keadaan yang dapat menguntungkan lawan bicara karna emosi,sesungguhnya kalimat tersebut adalah ithibar sehingga hanya sahabat antara sahabatlah yang boleh saling mengucapkan.
Ironisnya kini Dagingnya pun dilarang,
Lapak ditutup.
Pisau diturunkan.
Aroma yang dahulu jujur kini dianggap gangguan.
Larangan memperjualbelikan daging yang telah berpuluh tahun hidup sebagai budaya lokal terasa seperti menyembelih ingatan di siang bolong tanpa prosesi, tanpa tanya, tanpa empati. Yang dipotong bukan hanya hewan, tetapi ruang hidup sebuah identitas.
Kota yang dulu bangga disebut multikultural kini tampak gugup menghadapi perbedaan yang terlalu nyata. Seolah keberagaman hanya boleh hidup sebagai slogan, bukan sebagai praktik. Selama aman di baliho, selama rapi di pidato. Tapi ketika ia berbau, berdarah, dan benar-benar hidup, ia dianggap harus disingkirkan.Yang hari ini disebut “tak pantas”, dahulu adalah keseharian.
Yang kini dianggap “melanggar ketertiban”, dulu adalah napas hidup komunitas.
Hukum pun berdiri kikuk, lupa bahwa ia seharusnya mengatur kehidupan bukan menghapusnya.Jika Medan dengan slogan " Ini Medan Bung" tak perlu lagi belajar jadi kota kota dewasa,Namun pemimpin-pemimpin di Medan-lah yanv harus belajar satu hal, Keadilan harus selalu harum, dan toleransi harus selalu nyaman.
Kota yang besar bukan kota yang seragam,
melainkan kota yang berani menanggung bau perbedaan
tanpa tergesa mencuci tangan.
Sebab ketika satu daging dilarang masuk pasar, yang mati bukan hanya perdagangan,melainkan kepercayaan
bahwa kota ini masih milik semua penghuninya apa tidak?.
Padahal budaya tidak pernah lahir dari izin. Budaya lahir dari kebiasaan. Ibarat masakan di dapur diolah dengan rempah-rempah dan ketulusan sebagai penyedabnya lalu dihidangkan di atas meja makan.Dan di meja makan lalu disantap dengan kekeluargaan maka jadilah rmeja makan itu ruang paling demokratis dalam sejarah manusia.
Namun saat ini terjadi, Medan tak lagi gemuk oleh rasa perbedaan.,Medan seolah tampak kenyang oleh kekuasaan menjadikan " Ini Medan Bung " bukan lagi didengar kasar terapi dilihat pun sangat kasar karna ditata berdasarkan politik kepentingan.
Oihdah ..
Medan, Nasibmu kini diambang kehancuran karna diharapkan satu pemahaman.
SigondrongDalamDiam






