Setelah patah oada pertama
Dan semakin menganga kelukaan di yang kedua
Rasanya tak ingin lagi untuk bercinta
Hingga kututup segala pintu rasa
Walau sukar sungguh bagiku
Untuk dapat melupakan wajah-wajah terindah
Serta nama-nama yang terukir dalam
Di relung hati dan pikiran
Sejak saat itu,
Sendiri dalam diam adalah kekasih sejati
Mata pena dan kuas menjadi dialog-dialog yang mesra
Buatku yang menjadi sebongkah arca
Tanpa senyum dengab tawa yang dipaksa
Hari-hari terjalani hanya melengkapi kemauan yany maha kuasa
Sebabkan kala itu dipaksa mati pun belum mendapat restuNya
Hanya karna gagal dalam cinta
Sumpah serapah terangkat bagaikan membaca doa
"Jika memang Tuhan ada
Berikanlah aku kelak yang ada samanya dengan yang pertama dan kedua
Walau tak sama wujud dan sebagainya
Namun berikanlah satu saja persmaannya".
Kurun waktu 5 episode habisnya penanggalan dinding kamar usangku
Tepatnya di penanggalan merah hari kemerdekaan
Aku yang diajak bertukar suasana menggagahi alam
Saat itu..
Aku menjadi tertuduh
Hilang selembar puisi tokoaan
"Jika hanya puisi , aku pun dapat membuatnya, buat apa aku mengambilnya"
Ucapku penuh kekesalan
"Benar dia seorang penyair"ungkap seorang teman membuat pembelaan
Namun yang merasa kehilangan tiada memperdulikan
Setengah hasta dari sampingku
Kulihat seorang gads berkacamata
Tatapannya begitu dingin,namun wajahnya begitu ramah untuk dinikmati keindahnya
Dengan bibir yang simetris apik
Kulitnya putih bersih dengan rambut keriting halus kepirang-pirangan
Dan seketika aku menatap wajahnya
Aku menemukan surga diwajahnya
Dan sejak saat itu entah kenapa, ada kedamaian bila menatap wajahnya
4 lunar lebih kudekati dirinya
Namun surga diwajahnya belum dapat kumiliki sepenuhnya
Sampai pada suatu malam diberanda rumah indekosnya
Kuhamparkan apa yang mengganggu jaga lena
"Maukah menerima hamparan kasihku?"
"Ya.. mau dengan syarat jangan membahas agama"
Akhirnya percintaan dua dunia pun dimulai adanya
Hingga jarak pada akhir harus memisahkan
Melewati habis bukit barisan dan mengarungi lautan menuju pulau
Kemabukan cinta kala itu mengalahkan kais dan lalia
Aku pulih dari luka yang pertama dan kedua
Namun sakitnya menahankan rindu
Kalbu ini bagai diiris sembilu bisa
Setelah jauh aku baru sadar akan sumpah serapah yang pernah terangkat bagaikan membaca doa.
Ternyata samanya pada gelar kesukuan batak toba serta agama terhadap yang pertama mengguriskan luka
Namun hati masih dipenuhi rasa tak percaya
Bisa jadi kebetulan belaka
Ataukah memang bukti tuhan memang ada
Ah.. entahlah
Semakin jauh terhadap pada surga diwajahnya
Semakin membuat cinta ini meninggi terhadapnya
Entahlah......
Apakah surga diwajahnya kelak menjadi surga diwajahku
Yang kutahu kehadirannya mewarnakan hari-hari ini menjadi lebih indah.
SigondrongDalamDiam


Social Plugin