Seperti berada dibawah kibaran sarung merdekanya,di negeri ini hal biasa jika sebuah partai politik selama bertahun-tahun kerap dikuasai oleh keluarga,sehingga di era Reformasi yang kebablasan ini mereka-mereka yang pernah merasakan empuknya kursi berkuasa maupun merasakan nikmatnya berada dilingkaran kekuasaan pastilah ingin mengulang empuk dan nikmatnya yang dirasakan maka yang akan dilakukan kalau tidak melakukan pandai-pandai menjadi pengendus tahta setidaknya pandai-pandailah mengibas ekor pada sebuah keluarga yang berpengaruh itulah politik sejatinya.
Pengendus tahta dan pengibas ekor adalah salah satu penyebab terjadinya partai politik berjalan ditempat dan pengendus tahta dan pengibas ekor inilah yang mengambil andil dalam partai politik menjadi sebuah dinasti di partai politik sehingga secara langsung mengajari partai politik layak diwarisankan ke keluarga,anak,ponakan,dan menantu.Uang dan kedekatan menjadikan partai politik saatnya tidak lagi menjadi penampung aspirasi rakyat,penyambung lidah rakyat.kaderisasi tidak tidak penting.Gagasan segar dari masyarakat pun dikesampingkan yang diutamakan dan yang dianggap penting hanyalah bagaimana mengusai parlemen itu sebanyak yang mungkin siapa-siapa yang duduk taat perintah partai bukan taat menjalankan amanat rakyat.
Jika demikian apa sebenarnya kontribusi partai politik?. Dan apa pula kontribusi para ketua-ketua partai politik, selama ini bagi rakyat?.Apakah kebijakan yang lahir benar-benar berpihak pada kesejahteraan yang pro rakyat?. Kalau kita kembali kefitrah-nya partai politik adalah jembatan inspirasi menyalurkan suara rakyat kepada pemerintah yang berkuasa,itu artinya selain partai politik sebagai pilar demokrasi,partai politik juga adalah penyambung lidah seluruh lapisan rakyat karna partai politik adalah semesta bagi rakyat menyampaikan keluhannya,kegelisahan terhadap ketimpangan pemerintah yang berkuasa.Sehingga menjadi tugas ketua partai politiklah membentuk kebijakan yang pro rakyat untuk ditawarkan sebagai produk politik jangka panjang.Namun yang terjadi saat ini justru kebanyakan ketua-ketua umum partai politik terjebak dalam membesarkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga.
Partai politik merupakan pilar demokrasi dalam bhineka tunggal ika sebagai alat pemersatu rakyat menuju berkeadilan sosial,malah kini tampak menjadi beban negara , beban rakyat yang pelan-pelan namun pasti melalui korupsi berjamaah para anggota mereka yang duduk lupa berdiri di Dewan Perwakilan Rakyat.Ketidakmampuan ketua-ketua umum partai untuk sepakat menghadirkan undang-undang hukuman mati bagi koruptor di negeri ini menjadi alasan utama korupsi menjadi budaya baru yang memicu kehancuran negara..Ironisnya partai-partai politik malah lebih sering membuat sinetron gaduh lewat perwakilan di Dewan atau pun lewat permasalah internak mereka sendiri.Seperti peristiwa Mei 1998 dan Agustus 2025 contohnya. Atau seperti Peristiwa 21 Juli Sabtu Kelabu yang berdarah. Kalau hanya seperti saat ini "Ada Pohon Beringin Tumbang" ini sinetron internal biasa yang diputar berulang-ulang yang pelakonnya mengendus tahta dan mengibas ekor..
Social Plugin